WHO memasukkan diabetes tipe 2 sebagai salah satu penyakit yang risikonya meningkat pada orang dewasa dengan tingkat perilaku sedentari yang lebih tinggi.
Terlalu lama duduk atau berbaring berarti tubuh menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan ketika melakukan aktivitas fisik. Jika kondisi tersebut berlangsung bersama pola makan yang tidak seimbang, berat badan dapat lebih mudah meningkat.
WHO menyebut aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga berat badan dan kesehatan tubuh, sedangkan kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Perilaku sedentari dalam jumlah tinggi juga dikaitkan dengan risiko kanker. WHO menyebut pada orang dewasa, tingginya perilaku sedentari berhubungan dengan peningkatan kejadian dan kematian akibat kanker.
Meski demikian, perilaku sedentari bukan berarti setiap orang yang banyak duduk pasti mengalami kanker. Hubungan tersebut merupakan bagian dari bukti epidemiologis mengenai risiko kesehatan pada populasi.
Kurangnya aktivitas fisik juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Sebaliknya, aktivitas fisik secara rutin diketahui dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.
Karena itu, mengurangi waktu sedentari sekaligus menambah aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.
Berapa lama aktivitas fisik yang dibutuhkan?
WHO merekomendasikan orang dewasa berusia 18 hingga 64 tahun melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu. Pilihan lainnya adalah aktivitas intensitas berat selama 75 hingga 150 menit per minggu atau kombinasi keduanya.