Kiprah Guruh di musik tidak berhenti pada Guruh Gipsy.
Pada 1976, lagu ciptaannya berjudul "Renjana" memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional dan kemudian membawa nama Indonesia ke World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.
Setelah itu, berbagai lagu ciptaannya bermunculan dan menjadi bagian dari khazanah musik populer Indonesia, seperti "Galih dan Ratna", "Gita Cinta", "Anak Jalanan", "Lenggang Puspita", "Sendiri", dan "Marlina".
Salah satu karya lainnya yang cukup penting adalah "Kembalikan Baliku" yang dibawakan Jopie Latul. Lagu tersebut kembali membawanya ke ajang Festival Lagu Populer Indonesia dan World Popular Song Festival di Tokyo.
Dalam karya itu, Guruh memadukan unsur musik tradisional Bali dengan warna disco dan rock. Pola tersebut memperlihatkan ciri khasnya yang terus muncul dalam berbagai karya: modern, tetapi tetap membawa identitas Indonesia.
Swara Maharddhika dan lahirnya panggung kolosal
Pada 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika, sebuah organisasi yang menjadi wadah kreativitas anak muda dalam bidang seni.
Di tempat inilah berbagai gagasannya mengenai musik, tari dan pertunjukan kemudian berkembang menjadi produksi panggung yang lebih besar. Guruh menggabungkan tari tradisional Indonesia dengan tari modern Barat dan mengemasnya dalam pertunjukan yang lebih populer sehingga dapat diterima masyarakat luas.
Guruh kemudian melahirkan rangkaian Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra.
Dimulai dari Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, perjalanan tersebut berlanjut melalui "Untukmu Indonesiaku" pada 1980, "Cinta Indonesia" pada 1984, hingga "Gilang Indonesia Gemilang" pada 1986.
Pertunjukan-pertunjukan itu tidak hanya mengandalkan musik. Di dalamnya terdapat tari, koreografi, busana, tata panggung dan unsur teatrikal yang dirancang sebagai satu kesatuan.
Guruh sendiri tidak sekadar menjadi pencipta lagu. Dalam sejumlah pertunjukan, ia berperan sebagai komposer, koreografer sekaligus sutradara.
Karya-karya besar tersebut kemudian berkembang ke sejumlah pertunjukan lain, termasuk penampilan pada pembukaan PON ke-10 di Jakarta pada 1981, pembukaan Pekan Raya Jakarta pada 1982, Gempita Swara Maharddhika pada 1987, serta pertunjukan kolosal "JakJakJakJak Jakarta" pada 1989.
Konsepnya relatif konsisten: membawa seni tradisional Indonesia ke panggung besar dengan bahasa pertunjukan yang lebih modern.
Dari Swara Maharddhika ke GSP Production
Swara Maharddhika kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1988. Guruh juga mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP Productions untuk mengembangkan kegiatan seni pertunjukan secara lebih profesional.
Pertunjukan yang dihasilkan tidak hanya digelar di Indonesia, tetapi juga pernah dibawa ke sejumlah negara, termasuk Singapura, Maroko, Tunisia, Yordania, Jerman, Belgia, Denmark, Swedia, Swiss dan Australia.
Dari lingkungan Swara Maharddhika pula muncul sejumlah nama yang kemudian dikenal luas di industri hiburan Indonesia. ANTARA mencatat beberapa di antaranya seperti Titi DJ, Deni Malik, Dewi Gita, Memes, Irianti Erningpraja, Euis Dahlia dan Rico Tampatty.
Artinya, kontribusi Guruh bukan hanya melalui lagu yang ia ciptakan, tetapi juga melalui ruang yang ia bangun bagi generasi seniman dan pekerja seni berikutnya.
Guruh Soekarnoputra tidak berhenti hanya di musik