Kiprah Guruh juga merambah dunia film.
Ia terlibat sebagai ilustrator musik untuk sejumlah film, termasuk "Ali Topan Anak Jalanan", "Gita Cinta dari SMA" dan "Puspa Indah Taman Hati". Pada 1977, ia juga tercatat mendapat penghargaan ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia.
Di depan kamera, Guruh pernah memerankan Sunan Muria dalam film "Wali Songo" pada 1985.
Sementara di dunia tari, ia dikenal sebagai koreografer yang konsisten mengembangkan pertemuan antara gerak tradisional dan modern.
Ketertarikannya pada tari bahkan sudah berkembang jauh sebelum ia dikenal sebagai komposer. Sejak muda, Guruh belajar langsung kepada sejumlah maestro tari dan gamelan Bali, termasuk I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Anak Agung Ayu Oka, Ni Ketut Reneng, I Nyoman Kakul, I Gusti Kompyang Raka dan sejumlah seniman lainnya. Ia juga belajar musik dari komponis Mochtar Embut dan Ismail Marzuki.
Karena itu, menyebut Guruh hanya sebagai pencipta lagu sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan perjalanan seninya.
Ia bergerak di antara musik, tari, koreografi, teater, film, tata busana dan pertunjukan kolosal.
Karya yang terus dinyanyikan lintas generasi
Menariknya, karya Guruh tetap menemukan jalan untuk dikenalkan kepada pendengar dari generasi yang berbeda.
Pada 2014, misalnya, konser "Salute to Guruh Soekarno Putra" menampilkan kembali 25 lagu ciptaannya melalui interpretasi musisi lintas generasi. Lagu-lagu seperti "Zamrud Khatulistiwa", "Kembalikan Baliku", "Galih dan Ratna" dan "Gita Cinta dari SMA" menjadi bagian dari konser tersebut.
Kemudian pada 2020, Musica Studios merangkum 10 karya Guruh dalam album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh sejumlah musisi lintas generasi, di antaranya Noah, Iwan Fals, D'MASIV, Kahitna, Afgan, Geisha, Sheryl Sheinafia dan Vidi Aldiano.
Daftar lagunya mencakup "Kala Cinta Menggoda", "Aji Mumpung", "Sendiri", "Kala Sang Surya Tenggelam" dan "Zamrud Khatulistiwa".
Karya-karya itu memperlihatkan bahwa lagu Guruh tidak berhenti pada satu periode musik tertentu. Lagu-lagu tersebut terus mendapatkan interpretasi baru ketika dinyanyikan oleh musisi dari generasi berbeda.
Warisan Guruh untuk musik Indonesia
Menjelang akhir hayatnya pun Guruh masih berbicara tentang seni dan kebudayaan. Pada Januari 2026, ia hadir dalam temu media musikal "Bukan Cinta Galih/Ratna" dan menekankan pentingnya seni sebagai medium untuk menyampaikan nilai serta membentuk karakter generasi muda.
Jika melihat perjalanan panjangnya, ada satu benang merah yang cukup jelas dari karya-karya Guruh: keinginan untuk membawa identitas Indonesia ke dalam bentuk seni yang bisa diterima zamannya.
Ia tidak menempatkan tradisi dan modernitas sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dipertemukan dalam musik, tari, busana dan pertunjukan.
Dari eksperimen Guruh Gipsy pada era 1970-an, panggung Swara Maharddhika, lagu-lagu populer seperti "Galih dan Ratna" serta "Zamrud Khatulistiwa", hingga kemunculan kembali Guruh Gipsy di panggung Synchronize Fest 2025, jejak tersebut masih bisa ditemukan.
Guruh Soekarnoputra kini telah berpulang. Namun, musik dan karya seni yang ia tinggalkan masih memiliki ruang untuk terus didengar, dipentaskan dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya.
Bagi dunia musik Indonesia, warisan Guruh bukan semata-mata daftar lagu atau pertunjukan. Lebih dari itu, ia meninggalkan gagasan bahwa musik populer pun bisa menjadi ruang untuk merawat identitas, memperkenalkan kembali tradisi, dan berbicara tentang Indonesia dengan bahasa yang terus berubah mengikuti zaman.