Masalahnya, kita tinggal di Indonesia yang tidak dibangun dengan cara seperti itu.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul di Batavia dan mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mereka tidak memiliki linimasa untuk menyaring orang yang berbeda pendapat, apalagi algoritma yang bisa menyembunyikan suara-suara yang tidak mereka sukai. Mereka justru berani membayangkan sebuah rumah bersama di tengah perbedaan.

Hampir seabad kemudian, kita mewarisi rumah itu, tetapi mulai membangun kamar-kamar yang pintunya hanya terbuka bagi orang-orang yang sepemikiran. Kata yang paling pendek tapi paling menentukan dalam Sumpah Pemuda 1928, yakni kata "satu", menghadapi ujian yang tidak pernah dibayangkan para pengikrarnya.