"Satu" bukanlah berarti semua harus serupa. Para pemuda 1928 tidak sekonyong-konyong kehilangan asal-usul daerahnya, lalu bangun keesokan hari dengan logat yang sama. Mereka tidak meleburkan seluruh perbedaan ke dalam sebuah cetakan raksasa. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit, yaitu membayangkan bahwa perbedaan dapat hidup bersama di bawah sebuah cita-cita yang sama.
Dalam pengertian itu, "satu" adalah sebuah sintesis. Kata itu tidak menghapus kenyataan bahwa kita beragam, melainkan memberi perbedaan tersebut arah dan rumah bersama bernama Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia pada mulanya bukanlah semata-mata kenyataan geografis, melainkan keberanian untuk merajut sebuah komunitas politik yang saat itu belum sepenuhnya terwujud.
Kini, cita-cita luhur tersebut menghadapi tantangan dalam wujud yang sama sekali baru. Kita tidak lagi berhadapan dengan serdadu yang memblokade jalan atau konflik fisik yang membatasi ruang perjumpaan. Ancaman itu kini hadir cukup lewat layar gawai, koneksi internet, dan algoritma media sosial yang mengenali setiap kebiasaan kita.