Dalam pendekatan inclusive growth Amartya Sen, hidup bukan semata mengejar angkat pertumbuhan, tapi juga tentang menambah nilai. Petani tidak cukup jika hanya meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga harus punya akses pasar, pengetahuan, modal, dan posisi tawar. Nelayan juga tidak cukup hanya fokus pada peningkatan kapasitas tangkapan, tapi juga harus memperhatikan rantai nilai yang berkeadilan. Dari sisi ini, community based development di kalangan warga NU menjadi relevan sebagai basis untuk saling menolong dan bergotong-royong.

Kabar baiknya, pemerintahan Presiden Prabowo hadir dengan aneka program prioritas yang jika kita optimalkan secara cerdas, bisa menjadi stimulan yang sangat relevan bagi peningkatan ekonomi warga NU. Koperasi Merah Putih sebagai pusat ekonomi desa, secara praktis akan memperpendek rantai distribusi, memperkuat posisi petani dan nelayan, dan membuka akses pasar lebih luas.

Petani dan nelayan yang mayoritas adalah warga NU, bisa mengoptimalkan perannya untuk mendapatkan pupuk subsidi, sarana produksi, pembiayaan, dan kepastian pasar. Sebagai agregator, kehadiran Kopdes bisa mengurangi ketergantungan petani dan nelayan kita pada tengkulak sehingga pendapatan bisa menjadi lebih bersih.

Demikian pula Makan Bergizi yang secara domino menciptakan permintaan harian yang amat besar. Jika petani dan nelayan NU menjadi pemasok utama, maka secara otomatis hasil bumi dan laut akan selalu terserap. Uang berputar di desa, dan ekonomi lokal menjadi dinamis.