Begitupun Sekolah Rakyat. Ini investasi untuk generasi di masa depan. Sebagaimana kita maklum, tidak sedikit putera puteri petani NU yang hidup di bawah predikat keluarga prasejahtera. Kehadiran Sekolah Rakyat dengan segala fasilitasnya, memberikan kemudahan bagi putera puteri petani dan nelayan kita untuk mengakses pendidikan dengan kualitas yang juga diutamakan. Dalam skema jangka panjang, ini tentu akan memutus rantai kemiskinan antar generasi, sebagaimana spirit Qanun Asasi untuk membangun karakter manusia.
Keseluruhan program tersebut di atas, diikat dengan komitmen yang kuat oleh negara dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan aneka support. Mulai dari skema permodalan Kredit Usaha Rakyat melalui bank Himbara, sampai akses modal ultra mikro dari PNM Mekar PT. Permodalan Nasional Madani. Melalui pendekatan kelompok, ibu-ibu nahdiyin bisa mengakses modal tanpa harus tertekan dengan persyaratan yang berat, plus bertemu dengan ekosistem yang satu sama lain terintegrasi.
Akhirnya, menguatkan ekonomi warga NU bukanlah proyek sosial semata. Namun ini adalah kerja peradaban. Tatkala petani di pelosok Jawa, nelayan di pesisir Madura dan Sulawesi, dan pengusaha kecil di kampung-kampung lebih sejahtera, maka daya beli nasional meningkat, ketahanan pangan menguat, dan kohesi sosial lebih erat.
Gus Kikin mengimbau kita untuk menjadikan Qanun Asasi sebagai pegangan kita di Abad kedua NU. Maka secara praksis, mari kita jawab ajakan itu dengan aksi nyata dalam kerangka khidmah keumatan dan kebangsaan. Kebangkitan warga NU yang sejati pada akhirnya adalah ketika dapur dapur warga NU mengepul, dan anak anak nahdiyin punya akses pada cita cita yang lebih terbuka dan setara. Dari sini, cita cita menuju Indonesia yang adil makmur dan sejahtera akan berjalan seiring dengan meningkatnya taraf hidup warga NU. Menguatkan NU, menguatkan Indonesia.