NADIKABAR.COM — Dari Sabang hingga Merauke, berjajar pulau-pulau. Berisi desa, kota, dan pesisir nusantara. Sambung menyambung, konek dan terhubung. Di atas tanah-tanah itu, hidup satu komunitas besar yang menjadi arus utama di setiap patahan sejarah dan perjalanan bangsa kita. Komunitas itu bernama nahdiyin, warga Nahdlatul Ulama (NU).

Kehidupan mereka nampak sederhana. Jauh dari kata mewah, hedon, dan aneka istilah yang serupa. Mereka bertani, melaut, berdagang kecil, menjadi buruh, guru ngaji, dan lain-lain. Namun demikian, sekali lagi, mereka besar. Baik dari sisi kuantitas, juga dari sisi pengaruh. Oleh karenanya, tak sedikit pakar berujar, jika ingin melihat potret kekuatan ekonomi Indonesia, lihatlah warga NU. Keduanya linier. Maka ketika kantong kantong ekonomi warga NU menguat, sudah otomatis Indonesia juga naik kelas.

Hari ini, aneka tantangan berdatangan dengan cara yang lebih kompleks. Moda ekonomi baru bergerak sangat disruptif, mengubah cara kita bekerja. Lebih-lebih di bidang ketenagakerjaan. Aneka varian pekerjaan lama hilang, sementara perubahan terus dinamis. Teknologi bernama kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi sesuatu yang kehadirannya tak terelakkan.

Kiai Haji Abdul Hakim Mahfuz (Gus Kikin) senantiasa memberikan pencerahan kepada warga NU untuk kembali kepada Qanun Asasi-nya Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Beliau menyampaikan bahwa Qanun Asasi bukanlah sekadar kalimat ajakan, akan tetapi seruan peradaban. Qanun Asasi menurut Gus Kikin adalah ruh yang sejati dari jam'iyah.

NU lahir bukan hanya sebagai organisasi, tapi juga peradaban yang dibangun di atas fondasi ilmu, adab, persaudaraan, dan kepemimpinan Ulama. Maka secara praktis, ekonomi warga NU seyogyanya dibangun di atas pilar ilmu sebagai cahaya, adab sebagai budaya, ukhuwah sebagai perekat, dan Khidmah sebagai jalan hidup.

Dalam pendekatan inclusive growth Amartya Sen, hidup bukan semata mengejar angkat pertumbuhan, tapi juga tentang menambah nilai. Petani tidak cukup jika hanya meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga harus punya akses pasar, pengetahuan, modal, dan posisi tawar. Nelayan juga tidak cukup hanya fokus pada peningkatan kapasitas tangkapan, tapi juga harus memperhatikan rantai nilai yang berkeadilan. Dari sisi ini, community based development di kalangan warga NU menjadi relevan sebagai basis untuk saling menolong dan bergotong-royong.

Kabar baiknya, pemerintahan Presiden Prabowo hadir dengan aneka program prioritas yang jika kita optimalkan secara cerdas, bisa menjadi stimulan yang sangat relevan bagi peningkatan ekonomi warga NU. Koperasi Merah Putih sebagai pusat ekonomi desa, secara praktis akan memperpendek rantai distribusi, memperkuat posisi petani dan nelayan, dan membuka akses pasar lebih luas.

Petani dan nelayan yang mayoritas adalah warga NU, bisa mengoptimalkan perannya untuk mendapatkan pupuk subsidi, sarana produksi, pembiayaan, dan kepastian pasar. Sebagai agregator, kehadiran Kopdes bisa mengurangi ketergantungan petani dan nelayan kita pada tengkulak sehingga pendapatan bisa menjadi lebih bersih.

Demikian pula Makan Bergizi yang secara domino menciptakan permintaan harian yang amat besar. Jika petani dan nelayan NU menjadi pemasok utama, maka secara otomatis hasil bumi dan laut akan selalu terserap. Uang berputar di desa, dan ekonomi lokal menjadi dinamis.

Begitupun Sekolah Rakyat. Ini investasi untuk generasi di masa depan. Sebagaimana kita maklum, tidak sedikit putera puteri petani NU yang hidup di bawah predikat keluarga prasejahtera. Kehadiran Sekolah Rakyat dengan segala fasilitasnya, memberikan kemudahan bagi putera puteri petani dan nelayan kita untuk mengakses pendidikan dengan kualitas yang juga diutamakan. Dalam skema jangka panjang, ini tentu akan memutus rantai kemiskinan antar generasi, sebagaimana spirit Qanun Asasi untuk membangun karakter manusia.

Keseluruhan program tersebut di atas, diikat dengan komitmen yang kuat oleh negara dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan aneka support. Mulai dari skema permodalan Kredit Usaha Rakyat melalui bank Himbara, sampai akses modal ultra mikro dari PNM Mekar PT. Permodalan Nasional Madani. Melalui pendekatan kelompok, ibu-ibu nahdiyin bisa mengakses modal tanpa harus tertekan dengan persyaratan yang berat, plus bertemu dengan ekosistem yang satu sama lain terintegrasi.

Akhirnya, menguatkan ekonomi warga NU bukanlah proyek sosial semata. Namun ini adalah kerja peradaban. Tatkala petani di pelosok Jawa, nelayan di pesisir Madura dan Sulawesi, dan pengusaha kecil di kampung-kampung lebih sejahtera, maka daya beli nasional meningkat, ketahanan pangan menguat, dan kohesi sosial lebih erat.

Gus Kikin mengimbau kita untuk menjadikan Qanun Asasi sebagai pegangan kita di Abad kedua NU. Maka secara praksis, mari kita jawab ajakan itu dengan aksi nyata dalam kerangka khidmah keumatan dan kebangsaan. Kebangkitan warga NU yang sejati pada akhirnya adalah ketika dapur dapur warga NU mengepul, dan anak anak nahdiyin punya akses pada cita cita yang lebih terbuka dan setara. Dari sini, cita cita menuju Indonesia yang adil makmur dan sejahtera akan berjalan seiring dengan meningkatnya taraf hidup warga NU. Menguatkan NU, menguatkan Indonesia.