Tak ketinggalan, bangunan gereja di dalam lapas dituding juga turut dimanfaatkan untuk tempat singgah Ferdy Sambo, terpidana seumur hidup dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Joshua Hutabarat. Di sebelah gereja diduga turut dibangun kamar khusus untuk dua orang dekat Sambo yang kini sudah bebas. Namun setelah adanya sidak, fasilitas itu dikabarkan dibersihkan.

"Kalau dia (Sambo) bangun samping gereja. Jadi kesatuan atapnya. Perbatasan dengan BLK (balai latihan kerja). Sekarang sudah kosong, sudah dibersihkan, AC dicabut-cabutin. Di gereja, di sampingnya tadinya ada tanah kosong, dia bangun, dia bikin kamar di sana. Itu (setelah sidak) dibongkar-bongkarin," ungkap salah satu saksi.

Bahkan saat giliran anggota DPR RI melakukan sidak, sejumlah bangunan di sebelah rumah ibadah itu ditutup menggunakan gypsum serta diberi keterangan sebagai gudang. "Kalau kemarin waktu ada sidak DPR, itu tuh udah ditutupin pake gypsum, itu tuh ditempel stempel gudang," sambung salah satu sumber.

Selain hunian, salah satu fasilitas mewah lain adalah lapangan tenis di tengah area lapas. Area ini sebetulnya adalah lapangan olahraga outdoor yang sudah ada sejak lama. Namun sekitar akhir 2025 rombongan koruptor yang baru masuk diduga berinisiatif membiayai pembangunan kanopi. Alhasil kini lapangan tersebut disulap menjadi semi-indoor. Sayangnya tak semua napi boleh menggunakan fasilitas tersebut.

"Pake duit para koruptor (pembangunannya), itu sebenernya siapa aja boleh main disitu ya. Tapi kalau misalkan kita lihat sesuai fakta di lapangan, napi-napi (biasa) itu nggak boleh mendekati lapangan tenis itu nggak boleh. Jangankan untuk merasakan fasilitasnya, mendekat aja kadang kaga boleh," ungkap sumber detikX.

Kluster hunian mewah ilegal yang ketiga berada di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), lokasi yang disidak oleh Ombudsman. Fasilitas di sini dikelompokkan menjadi dua. Pertama adalah hunian yang dibangun dengan basis kontainer. Kedua adalah deretan rumah serupa vila yang berada di sisi paling luar dan berbatasan langsung dengan Sungai Ciliwung.

Jika Bravo dan hunian di sekitar tempat ibadah ibarat hotel bintang tiga. Maka rumah kontainer itu setara bintang empat dan rumah vila adalah hunian paling mewah setara bintang lima. Mahar untuk menempatinya tak main-main, diduga hingga miliaran rupiah.

Sambo pun disebut-sebut salah satu napi yang menghuni sel mewah di SAE ini. Selain bekas Kadiv Propam Mabes Polri tersebut, narapidana yang menghuni fasilitas mewah itu adalah Jimmy Karim dan Indra Kenz. Jimmy merupakan terpidana kasus korupsi pemberian fasilitas kredit oleh LPEI. Jimmy divonis 10 tahun penjara, denda Rp 250 juta serta uang pengganti USD 32,9 juta.

Berdasarkan pantauan detikX di lapangan, setidaknya terdapat tiga unit hunian berbasis kontainer berwarna biru di SAE. Ketiga hunian tersebut berada dalam satu blok dan luput dari sidak yang dilakukan Ombudsman.

Tiap kontainer terdiri atas beberapa ruangan. Saat pintu hunian dibuka, tampak sejumlah perabotan yang tergolong mewah. Di antaranya tiga kulkas, meja dapur (kitchen table) berwarna putih, rak gantung berwarna putih, meja makan dengan lima kursi, smart tv, serta AC. Selain itu berdasarkan meteran listrik yang tertera, tiap unit juga dibekali daya listrik yang cukup besar yaitu 7.700 VA, tetapi dengan tarif golongan S1 (tempat sosial/publik).

Adapun deretan vila di SAE memiliki fasilitas yang lebih mewah. Bangunan-bangunan tersebut berada di luar area utama Lapas Kelas IIA Cibinong. Dari luar kompleks, akses menuju lokasi ini juga tidak perlu melalui gerbang utama lapas karena terdapat gerbang dan pintu masuk tersendiri. Menurut keterangan sejumlah saksi, para penghuni vila bebas menerima tamu dari luar lapas selama 24 jam.

"Mereka (petugas lapas biasa) tahu tempat itu tapi nggak bisa masuk. Itu di luar blok lapas. Ada rumah dinas, tapi tidak seperti (SAE) ini. SAE ini tertutup rapat (tidak kelihatan dari luar)," ucap sumber detikX.

Dari luar, bangunan-bangunan itu tampak seperti hunian baru. Catnya masih terlihat baru, berpadu dengan pencahayaan lampu kuning yang memberikan suasana khas rumah modern. Setiap vila memiliki teras belakang dengan jendela-jendela lebar yang menghadap ke pepohonan bambu dan Sungai Ciliwung. Lingkungannya tampak asri, nyaris tidak menggambarkan deretan hunian tersebut berada di dalam kawasan penjara.