"Tadi lihat-lihat bagaimana susahnya melakukan pemadaman di gambut, tidak ada apinya tapi baranya ada di bawah. Kalau kita pakai drone thermal itu atasnya sih enggak ada apa-apa tapi bawahnya itu masih memerah kayak batu bara yang terbakar," jelasnya.

Untuk memperkuat operasi di lapangan, pemerintah juga menyiapkan penambahan personel dan peralatan. Raja Juli menyebut telah berkomunikasi dengan Panglima TNI terkait kemungkinan penebalan pasukan sesuai kebutuhan di lokasi kebakaran.

Selain itu, sebanyak 35 personel Brimob dari Jawa ditambahkan untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Penambahan personel darat masih dimungkinkan apabila kondisi di lapangan membutuhkan dukungan lebih besar melalui koordinasi dengan kepolisian dan unsur terkait.

Di tingkat desa, pemerintah daerah didorong membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan pencegahan karhutla. Setiap desa dapat memiliki kelompok beranggotakan sekitar 15 hingga 30 orang yang dibekali peralatan untuk membantu mengawasi dan menangani kebakaran sejak dini.

"Kalau ada MPA, masyarakat peduli api yang terbentuk basis di desa 15-30 orang nanti silakan. Tapi kalau memang ada nanti kita bisa adakan lagi dan kita bantu peralatan untuk menjaga desa masing-masing. Jaga desa dari karhutla," tutupnya.