Miki mengatakan merespons orang terdekat --yang menjadikan kita sebagai tempat untuk merilis emosinya-- sebaiknya dilakukan dengan mendengarkannya secara aktif. Respons tersebut juga dapat disertai validasi terhadap perasaan dan keluhan yang diungkapkan, sehingga orang tersebut merasa dipahami.

Di sisi lain, Miki juga mengingatkan tetap perlu memahami batas kemampuan diri ketika memberikan dukungan. Apabila merasa dengan menjadi tempat untuk rilis emosi orang lain tersebut mulai terasa berat atau menguras energi, dia menyarankan agar menetapkan batasan.

Dalam kondisi ada batasan itu, dukungan dapat diberikan dengan mengarahkan orang yang bersangkutan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

“Jadi cukup dengarkan, kemudian validasi perasaannya. Kalau dirasa sudah tidak mampu lebih jauh memberikan bantuan, segera support untuk konsultasi pada profesional,” tutur psikolog yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Indonesia itu.