Penyelenggaraan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Agustus itu digelar oleh Pemda Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menggandeng masyarakat, tokoh adat, pelaku seni, UMKM dan berbagai pihak lainnya.
Pada pelaksanaannya awal Agustus 2026 tercatat ada 270 wisatawan mancanegara datang untuk menyaksikan festival itu.
Festival Asmat Pokman, yang digelar setiap Oktober, memiliki karakter yang khas karena dilaksanakan melalui kerja sama Keuskupan Agats dan Pemerintah Kabupaten Asmat.
Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa festival berkembang dari hubungan panjang antara komunitas lokal, lembaga keagamaan, dan pemerintah dalam menjaga serta mempromosikan kebudayaan Asmat.
Selama festival, pengunjung dapat menyaksikan proses mengukir, melihat karya seni, menikmati kuliner lokal dan menyaksikan parade perahu.
Perubahan nama menjadi Festival Asmat Pokman yang terjadi pada 2019 itu memiliki makna yang berkaitan dengan karya tangan, karena festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Asmat untuk mengekspresikan karya, budaya dan identitas mereka.
Seni ukir menjadi salah satu daya tarik utama, tetapi kegiatan festival lainnya juga dilakukan seperti anyaman, tari, lagu, ritual, kuliner lokal, pangkur sagu, hingga parade perahu.
Kegiatan budaya lainnya ialah Festival Danau Sentani, yang mengambil nama dari tempat acara itu berlangsung. Festival itu menjadikan Danau Sentani dan kebudayaan masyarakat di sekitarnya sebagai panggung utama.