"Jadi ada cerita sebelum ada larangan itu teh," ujarnya.

Tentu muncul pertanyaan, apa yang akan terjadi jika aturan-aturan ini dilanggar? Terkait hal ini, Yudi memilih untuk bersikap bijak dan tidak mengaitkannya secara langsung dengan klenik atau kejadian tertentu. Baginya, segala konsekuensi adalah rahasia Sang Pencipta.

"Wallahu a'lam, kebetulan saja itu mah. Masalah dampak mah tetap ada yang ngatur," katanya.

Terlepas dari misteri yang menyertainya, satu hal yang pasti, masyarakat Wanasigra tetap memilih jalan kepatuhan. Mereka menghormati tradisi ini bukan karena rasa takut, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap akar budaya mereka.

"Yang jelas, masyarakat Wanasigra masih patuh dengan larangan tersebut dan mengikuti tradisi tersebut," pungkasnya.

Di Wanasigra, warisan leluhur membuktikan eksistensinya. Ia tidak hanya mewujud dalam batu atau bangunan tua, tetapi bernapas dalam setiap nasihat, simbol, dan pantangan yang dijaga dengan penuh rasa hormat di tengah arus perubahan zaman. Bagi Yudi dan warganya, empat larangan ini adalah pengingat abadi bahwa kemajuan tidak harus berarti melupakan kesederhanaan dan jati diri.