NADIKABAR.COM — Jarum jam mendekati pukul sembilan pagi ketika aktivitas di kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) atau Pusat konservasi Gajah Sumatra mulai bergerak. Setelah melakukan absensi dan sarapan, para mahout atau pawang bersiap membawa gajah menuju hutan untuk mencari pakan alami.

Satu per satu gajah mulai diarahkan menuju area penggembalaan. Di sana, mereka menghabiskan waktu untuk merumput dan memakan vegetasi yang tersedia. Para mahout sudah mengenali jalur yang dapat dilalui gajah, termasuk lokasi yang aman untuk mencari makan di tengah kondisi hutan yang beragam.

Rutinitas tersebut menjadi bagian penting dari perawatan tujuh gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang berada di bawah pengelolaan ANECC. ANECC yang diresmikan pada 7 Desember 2017 itu berada di Jalan Lintas Sumatera, Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi tempat perawatan bagi gajah-gajah yang sebagian besar memiliki riwayat konflik dengan manusia.

Kepala Resor ANECC sekaligus Cagar Alam Batu Gajah, Boby Natalisus Purba, mengatakan tujuh gajah yang dirawat terdiri atas lima betina dan dua jantan. Usia mereka berkisar antara 20 hingga 47 tahun. Masing-masing memiliki riwayat dan karakter tersendiri.

Luis Figo, gajah jantan berusia 20 tahun, tercatat memiliki berat sekitar 2.352 kilogram. Bongkar, gajah jantan berusia 46 tahun, memiliki berat sekitar 2.457 kilogram. Sementara itu, Siti yang berusia 47 tahun berbobot 2.268 kilogram, dan Ester Juwita, berusia 46 tahun, memiliki berat 2.425 kilogram.

Dua gajah betina lainnya yakni Pini Elpionita berusia 36 tahun dengan berat 1.979 kilogram, dan Dini Anjani berusia 38 tahun dengan berat 1.956 kilogram. Seekor gajah betina bernama Caicilia berusia 39 tahun, juga menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Menurut Boby, sebagian besar gajah di Aek Nauli berasal dari Sumatera Selatan. Mereka sebelumnya terlibat konflik dengan manusia sebelum ditempatkan di kawasan konservasi. Seekor lainnya berasal dari wilayah Sosa, Padanglawas, dengan riwayat serupa. Adapun Luis Figo merupakan hasil pengembangbiakan atau breeding.

Kawasan hutan menjadi salah satu sumber pakan bagi gajah-gajah tersebut. Setiap hari, sekitar pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, mahout membawa satwa ke area yang telah dikenali sebagai lokasi penggembalaan.

"Dari jam 09.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB gajah kita sudah diangon ke hutan. Di sana gajah kita makan pakan alami. Rumput-rumputan yang ada di hutan. Mahout kita sudah tahu mana-mana saja lokasi yang bisa diangon namanya," kata Boby pada 26 September 2026.

Di kawasan hutan, rumput dan vegetasi alami menjadi bagian penting dari kebutuhan pakan. Setelah kembali dari hutan, gajah memperoleh pakan tambahan berupa rumput gajah, pelepah kelapa sawit, serta berbagai buah, seperti pisang, nanas, semangka, pepaya, dan tebu.

Menurut Boby, kebutuhan pakan harian diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari berat badan gajah. Artinya, gajah dengan berat dua ton dapat membutuhkan sekitar 200 kilogram pakan dalam sehari, bergantung pada kondisi dan komposisi pakannya.

Jika kebutuhan tersebut dihitung untuk tujuh gajah, pengelola harus memastikan ketersediaan makanan dalam jumlah besar setiap hari. Persediaan pakan juga harus memperhitungkan perubahan kondisi lingkungan, kebutuhan masing-masing satwa, serta ketersediaan vegetasi di area penggembalaan.

Karena itu, pakan tambahan menjadi bagian penting dalam menjaga kecukupan nutrisi gajah. Untuk memantau kondisi tubuh gajah, pengelola juga melakukan penimbangan secara berkala. Biasanya, kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 setiap bulan.

"Pakan tambahan kami antara lain rumput gajah, pelepah kelapa sawit, dan buah-buahan. Berat gajah juga kami pantau secara rutin," jelas Boby.

Penimbangan bulanan bukan hanya kegiatan mencatat angka. Perubahan berat badan dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mengevaluasi kondisi gajah dan kecukupan pakan. Jika terjadi penurunan berat badan, pengelola perlu menelusuri penyebabnya, mulai dari ketersediaan pakan alami hingga kebutuhan nutrisi satwa.

Menurut Boby, perhatian kepada satwa tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan kasatmata. Data berat badan, catatan kesehatan, ketersediaan pakan, dan pemeriksaan rutin membantu petugas mengambil keputusan dengan lebih baik.

Pengelolaan kawasan konservasi tersebut melibatkan sekitar 25 petugas, termasuk tenaga mitra. Mereka menjalankan tugas yang mencakup perawatan satwa, pemenuhan pakan, pemeliharaan fasilitas, hingga pengelolaan kawasan.

"Kalau mengelola konservasi gajah, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Bantuan dari mitra dan instansi terkait sangat diperlukan," ucapnya.

Menjelang siang hingga sore, aktivitas gajah berangsur bergeser dari mencari pakan di hutan menuju perawatan di area pengelolaan. Sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, gajah dibawa kembali untuk dimandikan dan menjalani pemeriksaan kesehatan.

Petugas memperhatikan telapak kaki dan kuku, memeriksa kulit untuk memastikan tidak ada luka atau gangguan, mengamati telinga dan mata, serta mengecek bagian tubuh lain yang berpotensi mengalami cedera selama gajah bergerak di hutan. Pada gajah jantan, kondisi gading juga menjadi bagian dari perhatian.

Pemeriksaan dilakukan setiap hari, termasuk ketika gajah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Langkah ini diperlukan agar perubahan kondisi fisik dapat diketahui lebih awal dan segera ditangani apabila ditemukan masalah.

Boby menjelaskan Aek Nauli memiliki tiga perawat satwa yang bersiaga untuk membantu pemeriksaan. Para mahout wajib membawa gajah yang menjadi tanggung jawabnya untuk diperiksa, terlepas dari apakah ada tanda-tanda sakit atau tidak.

"Harapan kami, jangan sampai gajah terluka atau sakit baru diperiksa. Kami ingin mengetahui kondisinya sejak awal, sehingga kalau ada masalah bisa segera ditangani," ujarnya.

Lingkungan Aek Nauli yang sejuk juga menuntut penyesuaian tersendiri. Pengelola mengatur waktu mandi agar tidak terlalu sering, yakni sekali sehari pada sore hari. Pemberian pakan tambahan pun disesuaikan dengan kebutuhan satwa dan kondisi lingkungan.

Aek Nauli menyimpan tantangan geografis yang tidak sederhana. Kawasan hutan dengan luas sekitar 2.400 hektare itu memiliki topografi yang beragam. Area yang dapat digunakan untuk pengelolaan gajah secara khusus mencakup sekitar 250 hektare. Tidak semua bagian kawasan cocok untuk menggembalakan satwa bertubuh besar.

Menurut Boby, sebagian medan relatif curam dan area yang landai tidak terlalu luas. Kondisi ini membatasi pilihan lokasi penggembalaan. Petugas harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan gajah sebelum menentukan jalur yang akan dilalui.

"Kalau terlalu curam, tentu akan memberatkan gajah. Tantangan kami mencari area yang sesuai, sehingga gajah tetap bisa bergerak dan mencari pakan dengan aman," jelasnya.

Di tengah kebutuhan perawatan yang berkelanjutan, dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam pengelolaan ANECC. Salah satunya datang dari Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematangsiantar, yang telah menjalin kerja sama dengan pengelola kawasan sejak 2018.

Bantuan yang diberikan mencakup pengembangan pakan rumput gajah, fasilitas timbangan, alat komunikasi handy talky (HT), rantai gajah, mesin pompa air, serta tandon air. Dukungan juga diberikan untuk kebutuhan vitamin dan sejumlah fasilitas lain yang menunjang perawatan satwa.

"Kami sangat bersyukur Pertamina memberikan bantuan yang banyak sekali untuk kawasan konservasi ini. Misalnya saja alat timbangan gajah. Dulunya, pengelola cukup kesulitan mengetahui berat badan gajah karena tidak ada timbangan. Padahal alat timbangan ini sangat penting membantu petugas memantau berat badan gajah secara berkala," jelasnya.

Saat ini, kawasan ANECC memang belum dibuka sebagai destinasi wisata umum. Kegiatan kunjungan lebih diarahkan untuk edukasi, khususnya bagi sekolah yang ingin mengenal gajah dan konservasi secara langsung.

Melihat gajah dari dekat, memahami kebutuhan pakannya, dan mengetahui bagaimana petugas memeriksa kesehatan satwa, tambah Boby, dapat memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya membaca informasi dari buku. Yang paling penting, pesan konservasi dapat tersampaikan dengan baik.

"Jadi kalau mau berkunjung, langsung aja bersurat ke ke kita. Saya pastikan di sini tidak ada dipungut biaya. Cuma, saya terus terang saja kalau bisa pihak sekolah donasi buah, kami bersyukur," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Fuel Terminal Manager Pematangsiantar Pertamina Patra Niaga, Zakharia Habibuw mengatakan kerja sama dengan pengelola Aek Nauli merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung kelestarian satwa dan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

"Kerja sama ini sudah berlangsung sejak 2018. Ada beberapa bantuan yang kami berikan, terutama untuk kelestarian gajah dan lingkungan Aek Nauli, seperti vitamin, lahan untuk pakan gajah, fasilitas timbangan, dan penyediaan air untuk kebutuhan gajah," ujarnya.