Menjelang siang hingga sore, aktivitas gajah berangsur bergeser dari mencari pakan di hutan menuju perawatan di area pengelolaan. Sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, gajah dibawa kembali untuk dimandikan dan menjalani pemeriksaan kesehatan.

Petugas memperhatikan telapak kaki dan kuku, memeriksa kulit untuk memastikan tidak ada luka atau gangguan, mengamati telinga dan mata, serta mengecek bagian tubuh lain yang berpotensi mengalami cedera selama gajah bergerak di hutan. Pada gajah jantan, kondisi gading juga menjadi bagian dari perhatian.

Pemeriksaan dilakukan setiap hari, termasuk ketika gajah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Langkah ini diperlukan agar perubahan kondisi fisik dapat diketahui lebih awal dan segera ditangani apabila ditemukan masalah.

Boby menjelaskan Aek Nauli memiliki tiga perawat satwa yang bersiaga untuk membantu pemeriksaan. Para mahout wajib membawa gajah yang menjadi tanggung jawabnya untuk diperiksa, terlepas dari apakah ada tanda-tanda sakit atau tidak.

"Harapan kami, jangan sampai gajah terluka atau sakit baru diperiksa. Kami ingin mengetahui kondisinya sejak awal, sehingga kalau ada masalah bisa segera ditangani," ujarnya.

Lingkungan Aek Nauli yang sejuk juga menuntut penyesuaian tersendiri. Pengelola mengatur waktu mandi agar tidak terlalu sering, yakni sekali sehari pada sore hari. Pemberian pakan tambahan pun disesuaikan dengan kebutuhan satwa dan kondisi lingkungan.

Petugas melakukan penimbangan gajah di ANECC. Penimbangan rutin setiap bulan dilakukan untuk memantau perkembangan berat badan. (Foto: NadiKabar.com/ Farida Noris)

Aek Nauli menyimpan tantangan geografis yang tidak sederhana. Kawasan hutan dengan luas sekitar 2.400 hektare itu memiliki topografi yang beragam. Area yang dapat digunakan untuk pengelolaan gajah secara khusus mencakup sekitar 250 hektare. Tidak semua bagian kawasan cocok untuk menggembalakan satwa bertubuh besar.

Menurut Boby, sebagian medan relatif curam dan area yang landai tidak terlalu luas. Kondisi ini membatasi pilihan lokasi penggembalaan. Petugas harus mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan gajah sebelum menentukan jalur yang akan dilalui.

"Kalau terlalu curam, tentu akan memberatkan gajah. Tantangan kami mencari area yang sesuai, sehingga gajah tetap bisa bergerak dan mencari pakan dengan aman," jelasnya.

Di tengah kebutuhan perawatan yang berkelanjutan, dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam pengelolaan ANECC. Salah satunya datang dari Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematangsiantar, yang telah menjalin kerja sama dengan pengelola kawasan sejak 2018.

Bantuan yang diberikan mencakup pengembangan pakan rumput gajah, fasilitas timbangan, alat komunikasi handy talky (HT), rantai gajah, mesin pompa air, serta tandon air. Dukungan juga diberikan untuk kebutuhan vitamin dan sejumlah fasilitas lain yang menunjang perawatan satwa.

"Kami sangat bersyukur Pertamina memberikan bantuan yang banyak sekali untuk kawasan konservasi ini. Misalnya saja alat timbangan gajah. Dulunya, pengelola cukup kesulitan mengetahui berat badan gajah karena tidak ada timbangan. Padahal alat timbangan ini sangat penting membantu petugas memantau berat badan gajah secara berkala," jelasnya.

Saat ini, kawasan ANECC memang belum dibuka sebagai destinasi wisata umum. Kegiatan kunjungan lebih diarahkan untuk edukasi, khususnya bagi sekolah yang ingin mengenal gajah dan konservasi secara langsung.

Melihat gajah dari dekat, memahami kebutuhan pakannya, dan mengetahui bagaimana petugas memeriksa kesehatan satwa, tambah Boby, dapat memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya membaca informasi dari buku. Yang paling penting, pesan konservasi dapat tersampaikan dengan baik.

"Jadi kalau mau berkunjung, langsung aja bersurat ke ke kita. Saya pastikan di sini tidak ada dipungut biaya. Cuma, saya terus terang saja kalau bisa pihak sekolah donasi buah, kami bersyukur," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Fuel Terminal Manager Pematangsiantar Pertamina Patra Niaga, Zakharia Habibuw mengatakan kerja sama dengan pengelola Aek Nauli merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung kelestarian satwa dan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

"Kerja sama ini sudah berlangsung sejak 2018. Ada beberapa bantuan yang kami berikan, terutama untuk kelestarian gajah dan lingkungan Aek Nauli, seperti vitamin, lahan untuk pakan gajah, fasilitas timbangan, dan penyediaan air untuk kebutuhan gajah," ujarnya.

Menurut Zakharia, dukungan terhadap konservasi juga berkaitan dengan kedekatan wilayah operasional Pertamina di Pematangsiantar dengan kawasan tersebut. Pelestarian gajah menjadi bagian dari kepedulian Pertamina terhadap satwa yang dilindungi dan lingkungan yang menopang kehidupannya.

"Gajah merupakan satwa yang dilindungi dan populasinya perlu dijaga. Kami ingin ikut mendukung kelestariannya sekaligus menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam," kata Zakharia.

Pertamina juga mendukung upaya pelestarian anggrek melalui fasilitas pembiakan bagi varietas endemik di kawasan tersebut. Dukungan ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap lingkungan tidak hanya berpusat pada satu jenis satwa, tetapi juga menyangkut keanekaragaman hayati yang menjadi bagian dari ekosistem hutan.

"Selain itu, kami juga ada kerja sama terkait pelestarian anggrek. Tempat pembiakan anggrek yang merupakan varietas endemik untuk wilayah sini supaya lebih lestari," ujarnya.

Ia menegaskan pelaksanaan program ini tetap memerlukan arahan dari pihak yang memahami kebutuhan konservasi secara teknis. Pertamina menyediakan dukungan sesuai kebutuhan dan usulan pengelola, sedangkan penentuan aspek teknis perawatan satwa berada pada pihak yang berkompeten.

"Energi itu tidak hanya diperoleh dari bahan bakar. Energi bisa berasal dari banyak hal, salah satunya hutan dan alam kita. Dengan memelihara hutan dan menjaga satwanya, Pertamina juga ikut menjaga kehidupan," ujar Zakharia.

Sore kian turun di Aek Nauli. Gajah-gajah yang telah selesai dimandikan menjalani pemeriksaan sebelum kembali ke tempat istirahat. Para mahout memastikan rutinitas hari itu berlangsung dengan baik. Petugas kesehatan memperhatikan kondisi tubuh satwa, sementara kebutuhan pakan untuk hari berikutnya tetap menjadi bagian dari perencanaan.

Aidil Adha Rahab salah satu mahout tampak sibuk menemani Pini Elpionita untuk mandi di sungai kecil dalam kawasan hutan. Ia sesekali menyiram bagian tubuh satwa bertubuh besar itu.

Pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak 2017. Ia mengenal gajah bukan dari buku atau bangku pelatihan. Pada masa awal, ia belajar dengan mengikuti arahan mahout yang lebih berpengalaman.

"Awalnya saya diajak abang senior. Dari situ saya belajar, mengikuti arahan senior, sampai akhirnya terbiasa merawat gajah," ujar Aidil.

Bagi Aidil, mengenal Pini tak cukup hanya dengan mengetahui ukuran tubuhnya. Ia juga harus memahami tabiatnya, termasuk saat gajah betina berusia 36 tahun itu sedang 'merajuk'. Hubungan antara mahout dan gajah tidak terbentuk dalam sehari. Ia tumbuh dari interaksi yang berulang, dari rutinitas yang dijalankan bersama, serta dari kepekaan membaca perilaku satwa.

"Kalau pekerjaan sehari-hari, pagi kami membawa gajah untuk mencari makan di hutan. Sore dimandikan, kemudian diberi pakan tambahan. Kami juga harus memperhatikan kondisi gajah setiap hari," katanya.

Ada pula pengalaman yang membuat Aidil tersenyum. Suatu ketika, Pini merajuk karena Aidil tidak membawa makanan. Alih-alih mendekat seperti biasanya, Pini justru membelakangi Aidil. Seolah-olah menunjukkan ketidaksenangannya, Pini memilih menjauh dan tidak menghiraukan ajakan Aidil.

"Kalau dia merajuk, ya harus dibujuk. Waktu itu saya datang enggak bawa makanan. Terus dia merajuk, membelakangi saya. Dipegang juga enggak mau. Setelah diberi makanan, baru dia enggak merajuk lagi. Jadi kalau ke sini, harus bawa buah buahan gitu," tutur Aidil.

Menurut Aidil setiap gajah memiliki kebiasaan dan respons berbeda. Karena itu, merawat mereka tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan. Dibutuhkan pula kedekatan, kesabaran, dan kemampuan memahami karakter masing-masing satwa.

Sejak berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga, kebutuhan pakan gajah terpenuhi. Aidil berharap kerjasama itu dapat terus terjalin.

"Banyak sekali bantuan yang diberikan Pertamina untuk kawasan konservasi ini. Misalnya saja kebun rumput gajah dan timbangan gajah. Kami bersyukur dengan alat timbangan ini perkembangan gajah bisa kami pantau. Selain itu, kami juga tidak kekurangan untuk pakan gajah. Saya harap kerjasama ini dapat terus berlanjut," pungkasnya.