Menurut Zakharia, dukungan terhadap konservasi juga berkaitan dengan kedekatan wilayah operasional Pertamina di Pematangsiantar dengan kawasan tersebut. Pelestarian gajah menjadi bagian dari kepedulian Pertamina terhadap satwa yang dilindungi dan lingkungan yang menopang kehidupannya.

"Gajah merupakan satwa yang dilindungi dan populasinya perlu dijaga. Kami ingin ikut mendukung kelestariannya sekaligus menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam," kata Zakharia.

Pertamina juga mendukung upaya pelestarian anggrek melalui fasilitas pembiakan bagi varietas endemik di kawasan tersebut. Dukungan ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap lingkungan tidak hanya berpusat pada satu jenis satwa, tetapi juga menyangkut keanekaragaman hayati yang menjadi bagian dari ekosistem hutan.

"Selain itu, kami juga ada kerja sama terkait pelestarian anggrek. Tempat pembiakan anggrek yang merupakan varietas endemik untuk wilayah sini supaya lebih lestari," ujarnya.

Ia menegaskan pelaksanaan program ini tetap memerlukan arahan dari pihak yang memahami kebutuhan konservasi secara teknis. Pertamina menyediakan dukungan sesuai kebutuhan dan usulan pengelola, sedangkan penentuan aspek teknis perawatan satwa berada pada pihak yang berkompeten.

"Energi itu tidak hanya diperoleh dari bahan bakar. Energi bisa berasal dari banyak hal, salah satunya hutan dan alam kita. Dengan memelihara hutan dan menjaga satwanya, Pertamina juga ikut menjaga kehidupan," ujar Zakharia.

Sore kian turun di Aek Nauli. Gajah-gajah yang telah selesai dimandikan menjalani pemeriksaan sebelum kembali ke tempat istirahat. Para mahout memastikan rutinitas hari itu berlangsung dengan baik. Petugas kesehatan memperhatikan kondisi tubuh satwa, sementara kebutuhan pakan untuk hari berikutnya tetap menjadi bagian dari perencanaan.

Aidil Adha Rahab salah satu mahout tampak sibuk menemani Pini Elpionita untuk mandi di sungai kecil dalam kawasan hutan. Ia sesekali menyiram bagian tubuh satwa bertubuh besar itu.

Pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak 2017. Ia mengenal gajah bukan dari buku atau bangku pelatihan. Pada masa awal, ia belajar dengan mengikuti arahan mahout yang lebih berpengalaman.

"Awalnya saya diajak abang senior. Dari situ saya belajar, mengikuti arahan senior, sampai akhirnya terbiasa merawat gajah," ujar Aidil.

Bagi Aidil, mengenal Pini tak cukup hanya dengan mengetahui ukuran tubuhnya. Ia juga harus memahami tabiatnya, termasuk saat gajah betina berusia 36 tahun itu sedang 'merajuk'. Hubungan antara mahout dan gajah tidak terbentuk dalam sehari. Ia tumbuh dari interaksi yang berulang, dari rutinitas yang dijalankan bersama, serta dari kepekaan membaca perilaku satwa.

"Kalau pekerjaan sehari-hari, pagi kami membawa gajah untuk mencari makan di hutan. Sore dimandikan, kemudian diberi pakan tambahan. Kami juga harus memperhatikan kondisi gajah setiap hari," katanya.

Ada pula pengalaman yang membuat Aidil tersenyum. Suatu ketika, Pini merajuk karena Aidil tidak membawa makanan. Alih-alih mendekat seperti biasanya, Pini justru membelakangi Aidil. Seolah-olah menunjukkan ketidaksenangannya, Pini memilih menjauh dan tidak menghiraukan ajakan Aidil.

"Kalau dia merajuk, ya harus dibujuk. Waktu itu saya datang enggak bawa makanan. Terus dia merajuk, membelakangi saya. Dipegang juga enggak mau. Setelah diberi makanan, baru dia enggak merajuk lagi. Jadi kalau ke sini, harus bawa buah buahan gitu," tutur Aidil.

Menurut Aidil setiap gajah memiliki kebiasaan dan respons berbeda. Karena itu, merawat mereka tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan. Dibutuhkan pula kedekatan, kesabaran, dan kemampuan memahami karakter masing-masing satwa.

Sejak berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga, kebutuhan pakan gajah terpenuhi. Aidil berharap kerjasama itu dapat terus terjalin.

"Banyak sekali bantuan yang diberikan Pertamina untuk kawasan konservasi ini. Misalnya saja kebun rumput gajah dan timbangan gajah. Kami bersyukur dengan alat timbangan ini perkembangan gajah bisa kami pantau. Selain itu, kami juga tidak kekurangan untuk pakan gajah. Saya harap kerjasama ini dapat terus berlanjut," pungkasnya.

Jarum jam mendekati pukul sembilan pagi ketika aktivitas di kawasan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) atau Pusat konservasi Gajah Sumatra mulai bergerak. Setelah melakukan absensi dan sarapan, para mahout atau pawang bersiap membawa gajah menuju hutan untuk mencari pakan alami.

Satu per satu gajah mulai diarahkan menuju area penggembalaan. Di sana, mereka menghabiskan waktu untuk merumput dan memakan vegetasi yang tersedia. Para mahout sudah mengenali jalur yang dapat dilalui gajah, termasuk lokasi yang aman untuk mencari makan di tengah kondisi hutan yang beragam.

Rutinitas tersebut menjadi bagian penting dari perawatan tujuh gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang berada di bawah pengelolaan ANECC. ANECC yang diresmikan pada 7 Desember 2017 itu berada di Jalan Lintas Sumatera, Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi tempat perawatan bagi gajah-gajah yang sebagian besar memiliki riwayat konflik dengan manusia.

Kepala Resor ANECC sekaligus Cagar Alam Batu Gajah, Boby Natalisus Purba, mengatakan tujuh gajah yang dirawat terdiri atas lima betina dan dua jantan. Usia mereka berkisar antara 20 hingga 47 tahun. Masing-masing memiliki riwayat dan karakter tersendiri.

Luis Figo, gajah jantan berusia 20 tahun, tercatat memiliki berat sekitar 2.352 kilogram. Bongkar, gajah jantan berusia 46 tahun, memiliki berat sekitar 2.457 kilogram. Sementara itu, Siti yang berusia 47 tahun berbobot 2.268 kilogram, dan Ester Juwita, berusia 46 tahun, memiliki berat 2.425 kilogram.

Dua gajah betina lainnya yakni Pini Elpionita berusia 36 tahun dengan berat 1.979 kilogram, dan Dini Anjani berusia 38 tahun dengan berat 1.956 kilogram. Seekor gajah betina bernama Caicilia berusia 39 tahun, juga menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Menurut Boby, sebagian besar gajah di Aek Nauli berasal dari Sumatera Selatan. Mereka sebelumnya terlibat konflik dengan manusia sebelum ditempatkan di kawasan konservasi. Seekor lainnya berasal dari wilayah Sosa, Padanglawas, dengan riwayat serupa. Adapun Luis Figo merupakan hasil pengembangbiakan atau breeding.

Kawasan hutan menjadi salah satu sumber pakan bagi gajah-gajah tersebut. Setiap hari, sekitar pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, mahout membawa satwa ke area yang telah dikenali sebagai lokasi penggembalaan.

"Dari jam 09.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB gajah kita sudah diangon ke hutan. Di sana gajah kita makan pakan alami. Rumput-rumputan yang ada di hutan. Mahout kita sudah tahu mana-mana saja lokasi yang bisa diangon namanya," kata Boby pada 26 September 2026.

Di kawasan hutan, rumput dan vegetasi alami menjadi bagian penting dari kebutuhan pakan. Setelah kembali dari hutan, gajah memperoleh pakan tambahan berupa rumput gajah, pelepah kelapa sawit, serta berbagai buah, seperti pisang, nanas, semangka, pepaya, dan tebu.

Menurut Boby, kebutuhan pakan harian diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari berat badan gajah. Artinya, gajah dengan berat dua ton dapat membutuhkan sekitar 200 kilogram pakan dalam sehari, bergantung pada kondisi dan komposisi pakannya.

Jika kebutuhan tersebut dihitung untuk tujuh gajah, pengelola harus memastikan ketersediaan makanan dalam jumlah besar setiap hari. Persediaan pakan juga harus memperhitungkan perubahan kondisi lingkungan, kebutuhan masing-masing satwa, serta ketersediaan vegetasi di area penggembalaan.

Karena itu, pakan tambahan menjadi bagian penting dalam menjaga kecukupan nutrisi gajah. Untuk memantau kondisi tubuh gajah, pengelola juga melakukan penimbangan secara berkala. Biasanya, kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 setiap bulan.

"Pakan tambahan kami antara lain rumput gajah, pelepah kelapa sawit, dan buah-buahan. Berat gajah juga kami pantau secara rutin," jelas Boby.

Penimbangan bulanan bukan hanya kegiatan mencatat angka. Perubahan berat badan dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mengevaluasi kondisi gajah dan kecukupan pakan. Jika terjadi penurunan berat badan, pengelola perlu menelusuri penyebabnya, mulai dari ketersediaan pakan alami hingga kebutuhan nutrisi satwa.

Menurut Boby, perhatian kepada satwa tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan kasatmata. Data berat badan, catatan kesehatan, ketersediaan pakan, dan pemeriksaan rutin membantu petugas mengambil keputusan dengan lebih baik.

Pengelolaan kawasan konservasi tersebut melibatkan sekitar 25 petugas, termasuk tenaga mitra. Mereka menjalankan tugas yang mencakup perawatan satwa, pemenuhan pakan, pemeliharaan fasilitas, hingga pengelolaan kawasan.

"Kalau mengelola konservasi gajah, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Bantuan dari mitra dan instansi terkait sangat diperlukan," ucapnya.