Diberitakan media, Prabowo meminta nilai Pancasila dan kebangsaan terus ditanamkan. Disebutkannya, pesan ini menyentuh fondasi Indonesia: rumah bersama yang tidak boleh dikuasai satu identitas.

Saya mendukung ketegasan Presiden ini. Namun, membaca ancaman perpecahan hanya melalui persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan akan membuat kewaspadaan kita tidak lengkap. Terlalu kurang malah. Sebab, ada pula motif perebutan kekuasaan yang memakai kebohongan untuk merusak kewibawaan kepemimpinan. Ada manipulasi survei, jelas banget itu. Ada disinformasi digital. Ada pula korupsi dan pembajakan pelaksanaan program rakyat yang menggerogoti kepercayaan dari dalam.

Kelima unsur itu tidak selalu terhubung, apalagi otomatis digerakkan satu komando. Tidak musti. Menganggap semuanya sebagai konspirasi justru melemahkan argumentasi. Keseriusannya perlu dibaca melalui mekanisme yang dapat dijelaskan: bagaimana prasangka dibangkitkan, fakta dipelintir, kepercayaan dirusak, dan kemampuan pemerintah melayani rakyat akhirnya terganggu. Saya mewanti-wanti bukan menuduh, karena setiap tuduhan terhadap pelaku tertentu tetap memerlukan bukti.

Politik identitas menjadi berbahaya ketika perbedaan diubah menjadi alasan untuk mencabut dan menafikan kesetaraan warga. Orang dinilai menurut agamanya, bukan tindakannya; menurut sukunya, bukan gagasannya. Saat itu, lawan politik berubah menjadi musuh keberadaan. Menjaga Pancasila berarti mencegah persaingan politik menyeberang menjadi penolakan atau penghantaman terhadap hak kelompok lain untuk hidup setara di Indonesia.