NADIKABAR.COM — Tiga hari mungkin bukan waktu yang lama bagi sebagian orang. Namun, bagi atlet para panahan Indonesia Kholidin, tiga hari tanpa menarik tali busur sudah cukup untuk membuat sesuatu yang selama bertahun-tahun dilatihnya mulai berubah.

Sesuatu itu adalah feel, kepekaan yang membantunya menentukan ketepatan setiap bidikan menuju sasaran.

"Kalau panahan itu paling cepat tiga hari, paling lama seminggu kalau kita enggak gunakan, itu feel-nya berubah. Makanya saya harus melatih, mengulang-ulang terus biar jangan sampai feel-nya hilang," kata Kholidin ketika ditemui seusai pertandingan Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Okazaki, Jepang, Sabtu.

Bagi pemanah kelahiran 1977 tersebut, menjaga kepekaan bukan perkara sederhana. Ia memegang busur menggunakan satu tangan, sedangkan tali busur ditarik dan dilepaskan menggunakan gigi dengan bantuan alat khusus.

Teknik itu dikembangkannya setelah mengalami kecelakaan pada 2017 yang mengakibatkan salah satu tangannya harus diamputasi.

Sebelum kecelakaan tersebut, Kholidin telah mengenal olahraga panahan sejak 2016. Kehilangan satu tangan tidak membuatnya meninggalkan olahraga yang baru setahun ditekuninya itu.

Ia kembali mencoba memanah menggunakan gigi tidak lama setelah kecelakaan. Sejak saat itu, pengulangan gerakan menjadi bagian penting untuk mempertahankan ketepatan bidikannya.

Ketekunan tersebut kembali membuahkan hasil pada Asian Para Games 2026.

Kholidin membawa pulang medali perunggu bersama Setiawan dari nomor recurve ganda putra setelah mengalahkan pasangan Korea Selatan 6-0 pada Jumat pagi.

Pada sore harinya, ia menambah medali perak bersama Noviera Ross dari nomor recurve beregu campuran meskipun harus mengakui keunggulan pasangan China dengan skor 1-5 dalam pertandingan final.

Kesempatan menambah medali masih terbuka pada Sabtu, tetapi Kholidin harus puas menempati posisi keempat nomor recurve individu putra setelah kalah 2-6 dari wakil China, Yun Duo, dalam perebutan perunggu.

Satu perak dan satu perunggu akhirnya menjadi hasil perjuangannya di Nagoya, sekaligus memperbaiki pencapaiannya setelah gagal meraih medali pada Asian Para Games Hangzhou 2022.