NADIKABAR.COM — Perahu wisata bergerak perlahan membelah permukaan Sungai Maron yang tenang, meninggalkan riak kecil di atas air berwarna hijau kebiruan yang memantulkan cahaya matahari di sela rimbunnya pepohonan di sepanjang tepian.

Dari atas perahu, hamparan pohon kelapa tampak tumbuh rapat mengikuti aliran sungai, sementara tebing-tebing karst berdiri di beberapa sisi membentuk lorong alami yang membuat perjalanan menyusuri sungai terasa memasuki kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Suara mesin perahu memecah kesunyian, disusul sapaan warga atau percakapan wisatawan yang menikmati perjalanan menyusuri sungai sepanjang sekitar empat kilometer tersebut, sebelum kembali tenggelam dalam suara air yang bergerak mengikuti laju perahu.

Pemandangan itu menjadi salah satu alasan Sungai Maron di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kerap disebut sebagai "Amazon Indonesia", meskipun di balik panorama tersebut terdapat kehidupan masyarakat yang sejak lama tumbuh berdampingan dengan aliran sungai.

Bagi wisatawan, kejernihan air, pepohonan yang menaungi tepian, serta lanskap karst menjadi daya tarik untuk datang dan menyusuri sungai, sedangkan bagi masyarakat Dusun Maron, kawasan tersebut perlahan berubah menjadi ruang ekonomi yang memberi kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari potensi yang mereka miliki.

Di antara perjalanan perahu dan aktivitas wisata itulah warga mulai menemukan cara untuk mengembangkan Sungai Maron tanpa kehilangan alasan utama mengapa tempat tersebut didatangi, yakni alam yang tetap terjaga.

Perubahan Sungai Maron tidak berlangsung dalam semalam karena masyarakat secara bertahap belajar mengelola potensi wisata yang sebelumnya belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi.

Sejumlah warga kemudian mengambil peran sebagai pengemudi perahu, pengelola wisata, pelaku UMKM, petani, anggota kelompok perempuan, hingga penggerak kegiatan lingkungan, sehingga manfaat ekonomi dari keberadaan Sungai Maron mulai menyebar ke lebih banyak rumah tangga.