NADIKABAR.COM — Bilah-bilah bambu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Perlahan, jemari Baiq Idayatul Husni menyilangkan potongan demi potongan bambu hingga membentuk pola yang semakin jelas.

Gerakan itu bukan hal baru baginya yang genap berusia 40 tahun, karena lebih dari separuh hidupnya telah dihabiskan bersama bilah-bilah bambu yang menjadi bagian dari keseharian.

Bagi perempuan asal Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menganyam bukan sekadar pekerjaan.

Ada perjalanan panjang yang membuat keterampilan itu melekat bersama setiap tetesan keringat, mulai dari belajar sejak remaja hingga menjadikannya salah satu sumber penghidupan keluarga.

Lebih dari 20 tahun perempuan yang akrab dipanggil Ida tersebut menjalani pekerjaan sebagai perajin anyam bambu. Berbagai teori yang dahulu dipelajarinya sejak muda, kini menjadi keterampilan yang terus dia tekuni.