Desa yang diresmikan pada 15 November 1961 itu merupakan pusat kerajinan ayaman bambu terbesar dan satu-satunya di Nusa Tenggara Barat. Beberapa ikon kerajinan ayaman bambu adalah dedungki dan gegandek.

Di satu toko seni, tempat kerajinan bambu yang dikelola oleh suami Baiq Heni Kusmiyanti sejak 1997, keterampilan itu terus menemukan ruang untuk berkembang bersama lanskap alam persawahan yang masih asri.

Sebanyak 13 perempuan perajin terlibat dalam menghasilkan berbagai produk yang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

Bilah bambu yang awalnya tampak sederhana dapat berubah menjadi tas, keranjang, wadah penyimpanan, hingga beragam perlengkapan rumah tangga. Setiap bentuk membutuhkan ketelitian dalam menyiapkan bahan, menyesuaikan ukuran, dan menyilangkan bagian demi bagian agar menghasilkan anyaman yang kuat serta rapi.

Di tangan para perajin, bambu tidak lagi sekadar bahan alam. Tanaman yang menyandang nama ilmiah Bambusoideae menjadi sumber penghidupan sekaligus media untuk mempertahankan keterampilan yang telah dikenal masyarakat Desa Loyok sejak lama.