Persoalan inilah yang mengemuka dalam Forum Rembuk Kebudayaan Kota Kita yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 16 Oktober 2026.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak pemerintah kota membangun modernisasi yang tetap berpijak pada akar budaya. Pesan tersebut layak dibaca lebih jauh daripada sekadar ajakan melestarikan kesenian atau mempertahankan bangunan bersejarah.
Di tengah persaingan antarkota untuk menarik investasi, wisatawan, dan sumber daya manusia berkualitas, kebudayaan justru dapat menjadi pembeda yang menentukan daya tarik sekaligus kualitas kehidupan perkotaan.
Tantangannya, pembangunan modern sering kali lebih mudah dinilai melalui indikator fisik. Panjang jalan, jumlah gedung, nilai investasi, dan pertumbuhan ekonomi dapat dihitung secara relatif langsung.