Sebaliknya, keberhasilan menjaga bahasa daerah, merawat ruang perjumpaan, meneruskan pengetahuan tradisional, atau memperkuat toleransi tidak selalu memperoleh tempat yang sebanding dalam penilaian pembangunan.

Padahal, kota yang baik bukan sekadar tempat orang bekerja dan bergerak dengan efisien. Kota juga merupakan ruang tempat masyarakat membangun hubungan, merawat ingatan kolektif, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.

Karena itu, modernisasi tidak semestinya dipertentangkan dengan tradisi. Infrastruktur tetap diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, tetapi pembangunan perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni kota seperti apa yang hendak diwariskan kepada anak cucu.