NADIKABAR.COM — Sebuah kota dapat memiliki jalan yang lebar, gedung yang menjulang, pusat perbelanjaan modern, dan jaringan transportasi yang semakin baik. Namun, kemajuan fisik belum tentu membuatnya memiliki karakter yang kuat.
Ada sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya dengan semen dan baja, yakni identitas yang tumbuh dari sejarah, kebiasaan, bahasa, kesenian, dan cara masyarakatnya hidup berdampingan.
Identitas itulah yang membuat sebuah kota berbeda dari kota lainnya. Ia hadir dalam arsitektur bangunan lama, makanan khas, tradisi yang diwariskan lintas generasi, hingga kebiasaan warga saling membantu.
Ketika unsur-unsur tersebut tersisih oleh pembangunan yang seragam, kota mungkin tampak semakin modern, tetapi perlahan kehilangan kisah yang membuatnya istimewa.
Persoalan inilah yang mengemuka dalam Forum Rembuk Kebudayaan Kota Kita yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 16 Oktober 2026.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengajak pemerintah kota membangun modernisasi yang tetap berpijak pada akar budaya. Pesan tersebut layak dibaca lebih jauh daripada sekadar ajakan melestarikan kesenian atau mempertahankan bangunan bersejarah.
Di tengah persaingan antarkota untuk menarik investasi, wisatawan, dan sumber daya manusia berkualitas, kebudayaan justru dapat menjadi pembeda yang menentukan daya tarik sekaligus kualitas kehidupan perkotaan.
Tantangannya, pembangunan modern sering kali lebih mudah dinilai melalui indikator fisik. Panjang jalan, jumlah gedung, nilai investasi, dan pertumbuhan ekonomi dapat dihitung secara relatif langsung.
Sebaliknya, keberhasilan menjaga bahasa daerah, merawat ruang perjumpaan, meneruskan pengetahuan tradisional, atau memperkuat toleransi tidak selalu memperoleh tempat yang sebanding dalam penilaian pembangunan.
Padahal, kota yang baik bukan sekadar tempat orang bekerja dan bergerak dengan efisien. Kota juga merupakan ruang tempat masyarakat membangun hubungan, merawat ingatan kolektif, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.
Karena itu, modernisasi tidak semestinya dipertentangkan dengan tradisi. Infrastruktur tetap diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, tetapi pembangunan perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni kota seperti apa yang hendak diwariskan kepada anak cucu.