Kondisi ini memicu dampak serius bagi pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil, seperti di Nias Utara.
"Dalam perjalanan selanjutnya, kita mendatangi rumah sakit-rumah sakit. Saya belajar tentang RS bahwa setiap RS ada 7 spesialis dasar, dan to my surprise ada yang tidak punya 7 spesialis dasar itu, masih banyak RS tidak punya. 173 RSUD dari 514 tidak ada spesialis dasarnya," tutur Budi.
"Saya ingat di Nias Utara, ruang OK banyak laba-laba, mesin anestesi tidak pernah dipakai, cuma ada 1 spesialis anak dan dia satu-satunya di sana. Bayangkan kalau ada patah tulang saja harus di ibu kota Nias dirujuk, itu jalannya jelek sekali. Kalau misalnya mau operasi sesar harus seberang pulau, jadi spesialis langka sekali," tambahnya.
Guna membedah penyebab kelangkaan tersebut, Budi membandingkan rasio produksi dokter spesialis Indonesia dengan negara lain. Indonesia hanya memproduksi sekitar 2.700 dokter spesialis per tahun, jauh di bawah Korea Selatan (3.000), Inggris (12.000), dan Amerika Serikat (50.000).