"Selain industri yang tumbuh dari hilirisasi, saya melihat industri substitusi impor juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan ketersediaan tenaga kerja yang dapat menjadi modal untuk memperkuat kapasitas produksi nasional," ucapnya.

Menurut Abdul Rahman, pengembangan kedua jalur tersebut dapat saling melengkapi. Hilirisasi memperbesar nilai tambah sumber daya domestik, sedangkan industri substitusi impor dapat memperkuat basis produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar negeri.

Abdul Rahman menilai kolaborasi tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pemerintah mencapai visi pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.

"Pak Bahlil dengan agenda hilirisasi dan Pak Sarmuji dengan penguatan industrinya berada pada mata rantai ekonomi yang saling berhubungan. Sinergi keduanya saya kira dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menerjemahkan visi Presiden: pertumbuhan yang lebih tinggi, industri yang semakin kuat, dan kesempatan kerja yang semakin luas," ujar Abdul Rahman.