Pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengenali minat dan potensi, mengembangkan keterampilan, mencoba, menciptakan sesuatu, hingga mampu melihat peluang di lingkungan sekitar.
Menurut dia, model pendidikan tersebut terlihat di pesantren yang memadukan kurikulum nasional, pendidikan Al Quran, permakultur, dan pembelajaran berbasis keterampilan hidup.
Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga terlibat dalam pertanian, peternakan, pengolahan limbah, pengembangan kopi, produk santri, hingga wisata edukasi.
"Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Potensi lokal yang dikembangkan di pesantren salah satunya komoditas kopi.