Perkebunan kopi Arabika seluas sekitar 12,7 hektare, ditambah 2 hektare lahan baru, dikelola bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang.

Pada 2026, produksi kopi mencapai sekitar 50 ton.

Dari jumlah tersebut, sekitar 14 ton telah diserap untuk diolah menjadi berbagai produk, sedangkan 36 ton lainnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah.

Kondisi ini menunjukkan ruang pemberdayaan yang masih terbuka, mulai dari peningkatan kapasitas pasca-panen, pengolahan, pengemasan, hingga perluasan akses pasar agar nilai tambah lebih banyak dinikmati masyarakat.

"Di sini kita melihat bagaimana potensi lokal bisa menjadi sumber pemberdayaan. Bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah, meningkatkan nilai tambah, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar," ujar Muhaimin Iskandar.