"Kita impor beras 2024 empat setengah juta ton. Kita impor gula enam juta 2024. Kita impor garam hampir tiga juta ton. Kita impor kedelai hampir tiga juta ton. Kita impor terigu, kalau terigu memang kita akui karena kita tidak bisa, 13 juta ton," sebut Zulhas.

Namun, kebijakan impor ini menurutnya menguntungkan produsen luar. Sementara itu, petani, nelayan, dan peternak di Indonesia justru menjadi tidak produktif dan miskin. Zulhas kemudian mencontohkan angka nilai tukar petani pada 2024.

"Saya ambil contoh petani padi, jagung pada 2024, nilai tukarnya (nilai tukar petani) 116. Itu bisa makan tapi tidak bisa menyekolahkan anaknya dengan baik," sebutnya.

Melalui kebijakan swasembada pangan yang digenjot Presiden, harapannya Indonesia tak perlu lagi mengimpor beras dan jagung. Alhasil, itu akan berdampak pada kesejahteraan petani, dilihat dari kenaikan nilai tukarnya menjadi 125 pada 2025 dan 131 pada 2026.

"Petani kita sudah lumayan. Dia bisa makan yang bergizi. Dia sudah bisa belikan pakaian anak-anaknya. Dia sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan bagus. Bahkan, dia sudah bisa ngangsur motor," klaim Zulhas.

Upaya pemberian sokongan terhadap produsen lokal pun juga akan diarahkan kepada nelayan. Misalnya melalui pembangunan Kampung Nelayan sehingga dapat memberikan dukungan sarana, prasarana, dan modal yang berpihak pada nelayan.