Menurut Zulkifli, kondisi ini sebelumnya belum diperoleh para petani. Kebijakan yang berfokus pada impor, ia sebut menguntungkan petani luar yang berasal dari lokasi impor tersebut. Sementara, petani dan produsen lokal justru menjadi tidak produktif dan miskin.

"Oleh karena itu, saya ambil contoh petani padi [dan] jagung pada tahun 2024, nilai tukarnya 116. 116 itu bisa makan, tapi tidak bisa menyekolahkan anaknya dengan baik," ujarnya.

Namun, kondisi tersebut berubah dengan adanya kebijakan yang berpihak dari Presiden RI Prabowo Subianto. Zulkifli menyebut kebijakan terkait swasembada pangan yang didorong Prabowo pada akhirnya dapat tercapai pada 2025 sehingga Indonesia tak perlu mengimpor beras dan jagung.