NADIKABAR.COM β Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi lulusan perguruan tinggi luar negeri memperkuat kontribusi pembangunan bangsa dengan menciptakan inovasi teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI) agar berpusat pada manusia.
Ia menegaskan bahwa pengembangan teknologi tidak boleh berhenti pada penciptaan inovasi semata, tetapi harus dipastikan manfaatnya dirasakan manusia dan risikonya dapat dikendalikan.
βMenurut saya, kata kuncinya adalah bertanggung jawab. Bukan sekadar mendorong inovasi, kita percaya bahwa setiap inovasi harus dikembangkan secara bertanggung jawab,β ujar Meutya dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Pesan tersebut turut disampaikan Meutya saat menjadi pembicara kunci dalam forum bertajuk βHuman Connection in a Digital Worldβ di Jakarta, Selasa (29/9).
Menkomdigi menilai keahlian para pakar dan lulusan pendidikan global di bidang AI, ilmu data, dan keamanan siber sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia di tengah percepatan transformasi digital.
Mereka memiliki posisi strategis untuk menjembatani pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan kebutuhan pembangunan nasional.
βHal ini membuka peluang untuk bertukar gagasan dan mengembangkan teknologi yang melayani serta melindungi manusia, bukan justru menjadi gangguan bagi kemanusiaan,β katanya.
Selain sektor teknologi digital, Meutya juga memetakan peluang kontribusi lulusan perguruan tinggi luar negeri turut tersedia di sektor energi berkelanjutan, pendidikan, dan kesehatan.
Di sektor pendidikan, program pendampingan dan penguatan hubungan perguruan tinggi dengan industri dinilai krusial untuk mencetak talenta masa depan yang sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Dalam forum yang mempertemukan para alumni dari perguruan tinggi di Australia tersebut, Meutya kemudian menyoroti kemitraan Indonesia dan Australia yang terus berkembang.
Hubungan bilateral yang kuat dinilai dapat menjadi landasan untuk memperluas kerja sama pengembangan teknologi dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) antarkedua negara.
Meutya berpesan, jejaring internasional yang terbentuk dalam pendidikan memiliki peranan besar agar kontribusi yang diciptakan untuk masyarakat luas lebih berdampak nyata.
Ia mengenang perjalanan pendidikannya yang membawa dirinya sampai ke titik saat ini dipercaya memimpin kementerian yang berurusan dengan teknologi dan digitalisasi Indonesia.
Pada 1996, ia pernah mengikuti program foundation studies di Universitas New South Wales (UNSW) Australia. Dari situ ia melanjutkan langkahnya mendalami studi teknik manufaktur, dan berakhir lulus sebagai insinyur pada 2000 di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Australia tersebut.
Dari studi itu, Meutya memutuskan kembali ke Indonesia mengambil karier sebagai jurnalis sebelum terjun ke dunia politik dan menjalani lebih dari satu dekade sebagai anggota parlemen. Kini ia dipercaya menjadi Menteri Komunikasi dan Digital.
Ia berharap agar dalam jejaring-jejaring alumni perguruan tinggi luar negeri, para lulusan tidak hanya berkumpul dan mengenang masa studinya saja, tetapi juga bisa menciptakan ruang pertukaran gagasan, kolaborasi lintas bidang, dan bahkan menghadirkan solusi nyata bagi persoalan-persoalan Indonesia.
"Pada akhirnya, kita berharap alumni chapter tidak hanya menjadi wadah bagi kita untuk bertemu, tetapi juga menjadi ruang untuk berdiskusi dan memberikan kontribusi pemikiran. Saya yakin kita semua ingin memberikan kontribusi yang lebih besar," kata Meutya.