Pada Juni 2026, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan mengakui bahwa sebagian besar trafik internet Indonesia masih bergantung pada konektivitas melalui Singapura.
"Sejujurnya, trafik kita 90% tergantung ke Singapura. Itu (seperti) Selat Hormuz di Selat Malaka, gitu ya," ujar Denny di Jakarta kala itu.
Ketergantungan tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan digital. Terlebih, kebutuhan konektivitas terus meningkat seiring perkembangan layanan komputasi awan (cloud), pusat data, hingga kecerdasan buatan (AI).
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah berupaya mengembangkan jalur kabel bawah laut alternatif sekaligus memperkuat jaringan kabel darat di Indonesia.
"Kami mencoba menyelaraskan peta jalan pusat data, kabel laut, dan kabel darat-semuanya pada frekuensi yang sama," jelas Denny.
Adapun polemik unggahan Calvin bermula dari kebijakan Indonesia mengurangi ekspor gas ke Singapura. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa pengurangan pasokan dilakukan karena pemeliharaan fasilitas serta meningkatnya kebutuhan gas dalam negeri, bukan akibat konflik dengan Singapura.