NADIKABAR.COM — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan teknologi kecerdasan buatan dan Internet of Things (AIoT) mampu meningkatkan produktivitas budi daya kerapu serta pendapatan pembudidaya di Lamongan, Jawa Timur.
"Pemanfaatan teknologi ini menunjukkan hasil positif, mulai dari penghematan pakan hingga peningkatan pendapatan pembudidaya," katanya saat menghadiri panen raya ikan kerapu di Kampung Kerapu, Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Lamongan, Selasa.
Ia menjelaskan hasil uji coba teknologi berbasis Internet of Things (IoT) selama lima bulan di Lamongan menunjukkan penghematan penggunaan pakan hingga 20 persen, peningkatan tingkat kelangsungan hidup ikan sebesar 16 persen, serta kenaikan pendapatan pembudidaya lebih dari 24 persen.
Teknologi tersebut memudahkan pembudidaya dalam memantau kualitas air tambak meliputi kadar oksigen, tingkat keasaman (pH), dan salinitas, sehingga pengelolaan lingkungan budi daya dapat dilakukan lebih terukur.
"Program digitalisasi Komdigi di sektor perikanan ini bertujuan untuk mendukung asta cita Presiden RI terkait ketahanan pangan. Selain itu memberikan edukasi kepada petani dan petambak di berbagai daerah di Indonesia termasuk Lamongan," katanya.
Pihaknya juga memastikan penerapan teknologi hasil karya insinyur lokal yang dikembangkan bersama Habibie Garden di sektor perikanan akan terus didukung dengan ketersediaan jaringan internet yang memadai agar pembudidaya dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal.
Selain itu, Meutya turut melakukan persetujuan perpanjangan masa pendampingan program digitalisasi dan pemanfaatan fasilitas teknologi di Kampung Kerapu dari semula delapan bulan menjadi satu tahun.
"Kami menyetujui perpanjangan masa pendampingan program digitalisasi dan pemanfaatan fasilitas teknologi ini, dari semula delapan bulan menjadi satu tahun," katanya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan teknologi digital tersebut membantu pembudidaya menjaga kesehatan ikan, menekan tingkat kematian, serta meningkatkan efisiensi operasional karena kondisi tambak dapat dipantau dan dikendalikan dari rumah.
"Melalui teknologi loT, ikan menjadi lebih sehat, tingkat kematian menurun, dan harga jual kerapu di tingkat pembudidaya bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram," katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi modern juga mulai menarik minat generasi muda, selain diterapkan pada sektor perikanan tambak, inovasi teknologi digital cerdas berupa SmartGreenhouse juga dikembangkan secara khusus untuk mendukung para petani dalam budidaya melon premium di wilayahnya.
"Kami berharap Kementerian Komdigi terus memberikan pendampingan, peningkatan kapasitas, serta memperluas penerapan teknologi digital yang modern dan ramah masyarakat guna mendongkrak produktivitas sektor pertanian dan perikanan di Lamongan," ujarnya.
Sebagai informasi, Kampung Kerapu di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, memiliki luas tambak lebih dari 300 hektare yang dikelola enam kelompok pembudidaya.
Sebelumnya, pada 22 Juli 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital bersama PT Venambak Kail Dipantara menyalurkan 150 unit aerator Venjet untuk modernisasi budi daya kerapu di wilayah setempat.
Data Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan mencatat produksi budidaya ikan kerapu pada 2025 mencapai 1.830,62 ton senilai lebih dari Rp174 miliar.
Per September 2026, produksi ikan kerapu di wilayah setempat mencapai 1.481,5 ton dengan harga Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram dan dipasarkan hingga ekspor.