NADIKABAR.COM — Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul (CDU) dengan mitranya dari Rusia, Sergey Lavrov, pada hari Sabtu di New York, cukup mengejutkan. Namun, sepanjang akhir pekan hingga Senin(28/9), kalangan politik di Berlin intensif mendiskusikan apakah pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu merupakan gagasan yang tepat.
Kedua politisi bertemu di sela Sidang Umum PBB, namun belum berhasil menyelesaikan perselisihan sengit antar kedua negara.
Dalam konferensi pers pemerintah pada hari Senin di Berlin, juru bicara Menteri Luar Negeri Jerman, Josef Hinterseher, mengatakan bahwa hasil pertemuan tersebut sangat mengecewakan. Tentu saja juga karena Lavrov, setelah pertemuan tersebut, melontarkan komentar yang merendahkan terhadap mitra Jermannya.
Hinterseher mengatakan bahwa hal ini tidak mengejutkan Jerman, "Kami tentu menyadari nilai tambah propaganda dari pertemuan tatap muka semacam ini, yang dapat dimanfaatkan secara tepat oleh pihak Rusia. Meskipun demikian, dalam situasi ini, pertemuan itu dapat dibenarkan."
Sebenarnya, pertemuan yang mengejutkan itu merupakan pertemuan bilateral tingkat tinggi pertama sejak dimulainya agresi Rusia terhadap Ukraina di awal musim semi 2022. Terakhir kali, mantan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock (Partai Hijau) bertemu dengan Lavrov pada Januari 2022, kurang dari sebulan sebelum invasi Rusia pada Ukraina dimulai.
Sejak saat itu, hubungan antara Jerman dan Rusia membeku, terutama dalam beberapa bulan terakhir. Kemenlu Jerman menyampaikan bahwa Wadephul diminta oleh para politisi "global south" (politisi yang prihatin akan kesenjangan dunia belahan Utara dan Selatan) untuk menyelenggarakan pertemuan bilateral. Pasalnya, akibat perang Rusia-Ukraina tersebut, pasokan gandum dari Rusia maupun Ukraina terhenti.
Diperlukan gencatan senjata di Laut Hitam agar ekspor dapat kembali berjalan. Menanggapi hal ini, Juru Bicara Hinterseher mengatakan pada hari Senin (28/9), "Gandum adalah komoditas yang mudah rusak. Oleh karenanya, hal ini memerlukan tindakan cepat untuk ditangani pada musim gugur ini."
Namun, pertemuan tersebut juga tidak membuahkan hasil terkait hal tersebut.
Betapa dinginnya hubungan tersebut dan diperkirakan akan tetap begitu, nampak jelas ditunjukkan diplomat Rusia Sergey Lavrov. Dengan nada meremehkan terhadap Wadephul, Menteri Luar Negeri Rusia itu mengatakan kepada kantor berita Jerman (dpa) bahwa dirinya tidak mendengar sesuatu yang berbeda dari pernyataan publik harian Berlin.
Oleh karena itu, ia berkata kepada Wadephul, "Anda seharusnya cukup menelepon dan katakan: silakan baca penjelasan saya."
Sementara itu, Wadephul memilih kata-kata yang lebih moderat setelah pembicaraan tersebut. Dalam siaran televisi ARD, ia mengatakan bahwa salah satu alasan penting baginya untuk menyetujui pertemuan tersebut adalah upaya serangan pesawat nirawak yang terjadi di bandara Leipzig.
Pemerintah Federal Jerman menuduh Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. "Untungnya tidak terjadi hal yang buruk," kata Menlu Jerman tersebut. Namun, ia menegaskan kepada Lavrov bahwa Jerman akan menentang dan melawan hal tersebut.
Secara prinsip, Menteri Luar Negeri Jerman menambahkan bahwa vakumnya hubungan diplomatik setelah serangan Rusia terhadap Ukraina di awal tahun 2022, memang tepat. Namun, kini saatnya telah tiba untuk kembali berdialog. "Kita tidak perlu bernegosiasi dengan teman, tetapi harus bernegosiasi dengan lawan," rangkum Wadephul.
Hal itu nampaknya juga merupakan reaksi terhadap tuntutan yang telah lama dilontarkan oleh lawan politik CDU seperti Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang berhaluan ekstrem kanan serta Allians Sahra Wagenknecht (BSW) dan Partai Kiri untuk kembali berdiskusi dengan Rusia, meskipun perang tengah berlangsung.
Namun hingga saat ini, pihak Rusia sama sekali tidak pernah menunjukkan kesediaan untuk berdialog. "Kepada semua orang yang terus-menerus mengatakan bahwa Jerman harus bernegosiasi, Jerman harus berbicara dengan Rusia, kepada mereka saya katakan sekarang: Kami sedang melakukannya," jelas Menlu Jerman tersebut.
Namun, kritik terhadap pertemuan tersebut juga datang dari internal partai mereka sendiri. Misalnya, pakar urusan luar negeri dan keamanan dari CDU, anggota Bundestag Roderich Kiesewetter, mengatakan kepada harian Frankfurter Allgemeine Zeitung, "Saya memandang pertemuan ini dengan sangat kritis. Jika dipikirkan kembali, melakukan pembicaraan telepon akan lebih bijaksana. Sebab hasilnya tetap sama."
Keyakinan bahwa Rusia dapat diajak bernegosiasi, kembali dianggap Menlu Rusia, Lavrov, diakhir pertemuan itu, "Dianggap sebagai lelucon, seperti biasanya."
Pandangan yang sangat berbeda disampaikan oleh politisi kebijakan luar negeri dari SPD, Ralf Stegner. Partai Sosial Demokrat (SPD) merupakan mitra minoritas CDU dalam pemerintahan.
Stegner mengatakan kepada koran mingguan Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung bahwa pertemuan ini mensinyalkan, "Orang-orang Eropa masih di sini." Pujian juga datang dari Partai Hijau yang merupakan oposisi CDU.
Latar belakang inisiatif Jerman ini tentu saja juga karena salah satunya Presiden AS Donald Trump yang mendukung agar Rusia kembali dimasukkan ke dalam kelompok negara-negara industri terkemuka, yang kemudian akan disertakan dalam Kelompok G8, bukan dalam format G7.
Trump pun telah mengundang Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menghadiri pertemuan G20 pada bulan Desember di Miami, Florida, AS. Dengan kata lain, jika situasi berubah, Jerman tidak ingin terpinggirkan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman