NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov, dijadwalkan berkunjung ke Iran pada Senin (19/10), dalam upaya Moskow memainkan peran sebagai penengah dalam konflik Timur Tengah. Ini menjadi kunjungan pertama Lavrov sejak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berkecamuk pada akhir Februari lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dilansir AFP, Senin (19/10/2026), mengonfirmasi kunjungan Lavrov tersebut dalam pernyataan pada Minggu (18/10) waktu setempat. Lavrov dijadwalkan bertemu Menlu Iran Abbas Araghchi selama berkunjung ke Teheran.
Dia mengatakan bahwa kedua Menlu akan membahas "perkembangan regional dan internasional".
Lavrov sebelumnya mengatakan bahwa upaya Moskow "bertujuan untuk mencegah kembalinya perang berskala besar", ketika perundingan antara Teheran dan Washington tengah mengalami kebuntuan.
Kunjungan ini dilakukan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, pada awal Oktober lalu, bahwa Moskow siap berkontribusi dalam upaya mediasi.
Rusia dan Iran, dua negara yang paling banyak dijatuhi sanksi di dunia, menjalin hubungan yang erat. Kerja sama militer dan ekonomi di antara kedua negara justru semakin meningkat sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022 lalu.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa pembahasan selama kunjungan Lavrov ke Iran diperkirakan akan berfokus pada "cara-cara untuk menyelesaikan krisis internasional akut yang dipicu oleh agresi ilegal AS dan Israel terhadap Iran".
Disebutkan juga oleh Kementerian Luar Negeri Rusia bahwa perang Timur Tengah telah mengguncang stabilitas dan keamanan "tidak hanya di kawasan Timur Dekat dan Timur Tengah, tetapi juga dalam skala global".
Perang Timur Tengah bermula pada 28 Februari lalu dengan serangan skala besar oleh AS dan Israel terhadap Iran. Meskipun sempat tercapai gencatan senjata pada April lalu, yang kemudian diikut oleh nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran pada Juni, permusuhan belum juga berakhir.
Perselisihan terbaru soal kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global, semakin memanas. Dengan Teheran bersikeras mengklaim kendali atas jaluran perairan vital itu dan kerap menargetkan kapal-kapal yang mereka anggap melintas tanpa izin.
Sementara Washington bersikeras mewujudkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai balasan.