"Kita punya bonus demografi, punya tenaga kerja produktif yang banyak yang kalau dilatih bisa mengisi lapangan kerja yang ada di luar negeri," jelasnya.
Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, Qatar, dan Singapura sebagai negara yang menghadapi tantangan demografi. Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengirimkan pekerja terampil sesuai kebutuhan negara tujuan.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Kemenperin dan Kementerian P2MI memperluas kerja sama pelatihan calon pekerja migran. Kerja sama ini tidak hanya memanfaatkan balai diklat industri, tetapi juga politeknik, sekolah menengah kejuruan (SMK), hingga akademi komunitas di bawah Kemenperin.
Sarmuji menyebut kapasitas pelatihan yang dimiliki Kemenperin mencapai 11.000 orang per tahun. Sementara itu, sekitar 1.066 orang direncanakan mengikuti pelatihan melalui kerja sama kedua kementerian.
"Kapasitas kita setahun sebenarnya kita bisa mencetak sampai 11.000. Saat ini kerja sama, karena kemarin kerja samanya di ujung tahun, ada sekitar 1.066 yang insyaallah dilatih dengan kerja sama P2MI dan Kementerian Perindustrian," ungkapnya.