Upaya tersebut juga mencakup restrukturisasi mesin dan peralatan, penjaminan ketersediaan bahan baku, pemanfaatan teknologi dalam proses produksi, serta perluasan akses pasar melalui promosi dan fasilitasi pameran di dalam maupun luar negeri.
Menurut Sarmuji, potensi industri tenun juga tercermin dari kinerja ekspornya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai 28.000 dolar AS.
Sementara itu, pada semester I 2026, nilainya mencapai 34.000 dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 13.600 dolar AS.
Ia berharap pengembangan ulos dapat membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.