Ia menilai inovasi produk berbasis komoditas lokal menunjukkan besarnya potensi sumber daya alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk pangan modern yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Sarmuji menegaskan, pengembangan industri berbasis sumber daya alam tidak cukup hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah. Indonesia perlu memperkuat hilirisasi, riset, dan inovasi untuk menciptakan produk bernilai tambah serta memiliki keunggulan kompetitif.

Lebih lanjut, ia menyebut industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu penopang utama industri pengolahan nonmigas. Pada semester I 2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp47,74 triliun, dengan 59 persen di antaranya berasal dari penanaman modal dalam negeri.

Sementara itu, pada Januari–Agustus 2026, ekspor industri mamin mencapai 34,65 miliar dolar AS, sedangkan impornya sebesar 9,7 miliar dolar AS. Dengan demikian, sektor ini mencatatkan surplus perdagangan hampir 25 miliar dolar AS dan menyerap sekitar 6,9 juta tenaga kerja.