NADIKABAR.COM — Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf mengemukakan bahwa Program Sekolah Rakyat yang berjalan lebih dari satu tahun terakhir berhasil menjangkau dan memulihkan ribuan anak dari latar belakang rentan, mulai dari anak jalanan, pengamen, anak putus sekolah yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, hingga kuli bangunan.

Saifullah Yusuf di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, menyampaikan rasa haru dan syukurnya atas perkembangan signifikan yang ditunjukkan oleh para siswa Sekolah Rakyat setelah mendapat pendampingan intensif.

"Ada yang sebelumnya tidak pernah sekolah, di jalanan menjadi pengamen, ada yang sudah putus sekolah dua tahun dan jadi pembantu, ada yang jadi kuli, ada juga yang bekerja di tempat-tempat yang tidak semestinya," kata dia selepas acara perayaan satu tahun Sekolah Rakyat yang digelar terpusat di GOR Sudiang Makassar.

Dia menjelaskan bahwa pada awal penjangkauan, sebagian besar anak tersebut berada dalam kondisi yang memprihatinkan, baik dari segi kesehatan seperti masalah gigi dan anemia maupun minimnya motivasi belajar.

Bahkan, terdapat anak usia 17 - 18 tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan formal serta belum bisa membaca, sehingga memerlukan proses rehabilitasi dan penyetaraan terlebih dahulu di sentra-sentra milik kementerian.

Melalui pendekatan berbasis multientry-multiexit serta tata kelola terarah jumlah siswa yang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat secara nasional kini telah mencapai lebih dari 44.000 anak.

"100 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun, 93 diantaranya telah digunakan, dan 7 lainnya dalam proses pembangunan. Sementara Sekolah Rakyat rintisan yang sudah berjalan sebanyak 82 titik, sehingga total jumlah Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi sebanyak 182 titik dengan 44 ribu siswa," kata dia.

Saifullah menegaskan Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah (Desil 1-4) berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Program ini mengusung konsep pengentasan kemiskinan terpadu dengan mengintegrasikan berbagai layanan unggulan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), jaminan kesehatan PBI-JK, serta keterhubungan dengan Koperasi Merah Putih dan Program 3 Juta Rumah.

"Intervensi yang diberikan tidak hanya menyasar anak melalui pendidikan berkualitas, tetapi juga memberdayakan orang tua mereka melalui penyaluran bantuan sosial, kepesertaan PBI Jaminan Kesehatan, hingga perbaikan rumah agar menjadi layak huni," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Mensos mengapresiasi dukungan aktif dari pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sulawesi Selatan yang menjadi salah satu kepala daerah paling peduli dengan menyediakan lahan milik pemprov serta mencatatkan jumlah titik Sekolah Rakyat terbanyak di luar Pulau Jawa, dengan sembilan lokasi yang telah berjalan dan empat lokasi baru yang akan segera dibangun.

"Di Sulsel sekarang sudah ada sembilan dan akan dibangun lagi empat. Luar biasa. Bisa dilihat sekarang kondisinya, dan tentu kami terus berbenah, kami terus memperbaiki, mencukupi seluruh kekurangan-kekurangan itu. Tetapi, sekali lagi pada 28 Oktober ini, sekali lagi kami bersyukur, kami masih sering terharu melihat proses-proses yang terjadi di Sekolah Rakyat ini ," kata Mensos.