"Dulu kalau ada pertanyaan kenapa orang A dan B sama-sama miskin yang A dapat bansos, yang B tidak dapat bansos, jawabannya sederhana, karena yang B tidak ada di dalam data. Oleh sebab itu, dengan Perlinsos Digital ini, kita ingin meminimalisir adanya exclusion error," jelas Andy.
Menurutnya, Perlinsos Digital dirancang untuk memangkas proses administrasi, terutama karena penerima baru saat ini harus menunggu pembukaan rekening kolektif (burekol). Dengan sistem ini, ke depan penyaluran bansos diharapkan lebih cepat dan tepat sasaran. Kemensos menargetkan penyaluran bansos melalui Perlinsos Digital dapat dimulai pada awal 2027.
"Penyaluran (bansos) Perlinsos Digital nanti, masing-masing yang mengajukan bansos akan menominasikan rekeningnya. Bagi yang belum punya rekening, maka rekening akan didaftarkan berikutnya," kata Andy.
"Sehingga ketika pemerintah mendeteksi ada orang membutuhkan dan pengen cepat segera memberikan bansos, maka bisa segera disalurkan," sambungnya.
Andy menjelaskan penilaian kelayakan penerima bansos tidak hanya mengacu pada desil dalam DTSEN, tetapi juga dikonfirmasi melalui data administratif dari tujuh lembaga. Data tersebut mencakup kepemilikan kendaraan bermotor, sertifikat tanah, dan status ASN.
"Sehingga dengan Perlinsos Digital, lebih diarahkan pada bansos yang tepat sasaran dan cepat penyalurannya," pungkasnya.