Jika produktivitas dan kesiapan pelaksanaan memungkinkan, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare, dengan 3.000 hektare tambahan melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.
"Tahun depan kami sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM, 2.000 hektare. Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya," kata Amran.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kedelai, Kementan telah menyerahkan dukungan anggaran sebesar Rp7,7 miliar untuk tahun 2026. Amran menyampaikan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mengawal pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi, sekaligus mendorong hasil riset dan inovasi agar dapat diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.
"Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya. Ini sesuai komitmen pembicaraan kita saat pertemuan di Jakarta. Kami akan lanjutkan terus dan insyaallah akan kami kawal, karena ini perintah Bapak Presiden," ujar Amran.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo menjelaskan bahwa potensi hasil varietas kedelai yang dikembangkan dapat mencapai 3,6 ton per hektare. Tim UGM menargetkan produktivitas di atas 3 ton per hektare, dengan hasil aktual akan ditentukan oleh perkembangan tanaman hingga panen serta kesesuaian teknik budi daya dengan kondisi lahan.