Dalam peninjauan tersebut, tanaman kedelai yang diamati belum memasuki masa panen. Tanaman ditanam pada 30 Agustus 2026 dan berusia sekitar 44 hari saat kunjungan berlangsung. Karena itu, potensi produktivitas masih akan diuji hingga panen.
Pengaturan jarak tanam menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan tersebut. Subejo menjelaskan penggunaan jarak tanam 20 x 40 sentimeter pada lahan yang diamati, dengan penyesuaian teknik budi daya berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pencapaian produktivitas yang optimal.
Menurut Subejo, pengembangan berikutnya direncanakan melibatkan kelompok tani di Kabupaten Grobogan, dengan target produktivitas lebih dari 3 ton per hektare. Keterlibatan petani menjadi langkah penting untuk menguji penerapan teknologi budi daya dalam skala lapangan sekaligus mempersiapkan perluasan areal tanam.
Dalam kesempatan tersebut, Amran juga meninjau stan PIAT UGM yang menampilkan benih kedelai bersertifikat. Benih kedelai tersebut memiliki daya tumbuh hampir 99 persen berdasarkan pengujian yang dilakukan.
Lebih lanjut, kerja sama Kementan dan UGM diharapkan memperkuat pengembangan benih bermutu, penerapan teknologi budi daya, dan perluasan areal tanam kedelai. Melalui dukungan riset perguruan tinggi dan keterlibatan petani, pengembangan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat produksi kedelai nasional.