β€œHilirisasi menjadi salah satu pilar utama dalam kita mendapatkan investasi. Kita melihat tren investasi hilirisasi ini akan terus meningkat karena kita bisa menangkap semua nilai tambah, dan yang paling penting bagaimana industrialisasi ini bisa terjadi di Indonesia dengan menjalankan asas-asas keberlanjutan,” kata Rosan.

Dalam pengembangan energi bersih, Rosan menyebut program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) sebagai salah satu program prioritas pemerintah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pemerintah telah memulai program tersebut pada Agustus 2026. Tahap awal mencakup 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.

Rosan mengatakan pemerintah juga berupaya mengganti pembangkit berbasis diesel dengan kapasitas sekitar 13 GW secara bertahap dengan pembangkit tenaga surya sebagai bagian dari percepatan transisi energi.

Menurut dia, investasi yang berkelanjutan tidak hanya diperlukan untuk memperkuat daya saing ekonomi, tetapi juga diharapkan menghasilkan lapangan kerja yang berkualitas.

Rosan menambahkan percepatan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan membutuhkan kerja sama pemerintah, dunia usaha, investor, dan mitra internasional, termasuk untuk mendukung pencapaian target emisi nol bersih Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.