"Pastikan seluruh dokumen dan proses keberangkatan dilakukan melalui jalur resmi, pahami isi perjanjian kerja, ketahui hak dan kewajiban, serta jangan mudah percaya pada tawaran kerja yang tidak jelas," ucapnya.

Kesiapan sebelum keberangkatan juga perlu dilanjutkan dengan pengembangan kompetensi selama meniti karier di luar negeri. Mukhtarudin meminta kompetensi yang diperoleh para alumni Poltekkes Kemenkes Denpasar terus dikembangkan dan disesuaikan dengan standar negara tujuan.

"Yang kita ingin pastikan adalah setiap Pekerja Migran Indonesia yang berangkat dari Indonesia membawa kompetensi, profesionalisme, dan kesiapan, serta mendapatkan pelindungan sejak sebelum berangkat, selama bekerja, hingga kembali ke tanah air," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Yuli Farianti mengatakan penyiapan tenaga kesehatan untuk bekerja di luar negeri juga didukung melalui kerja sama antarpemerintah. Kerja sama tersebut juga telah dibangun dengan sejumlah negara.

"Untuk kami laporkan, Kementerian Kesehatan telah mempunyai MoU G2G dengan beberapa negara, yaitu Jerman, Jepang, Arab Saudi, Singapura, Qatar, Australia, termasuk Inggris," kata Yuli.

Kerja sama tersebut membuka peluang bagi lulusan Poltekkes untuk bekerja di sejumlah negara. Yuli mengatakan Jepang menjadi salah satu negara dengan penyerapan lulusan Poltekkes yang cukup besar, terutama untuk tenaga caregiver atau kaigo.

"Kami berharap anak-anak kami jangan terlalu banyak yang ke kaigo. Kalau kaigo, sebenarnya cukup lulusan SMA atau SMK. Tetapi kalau D3, D4, kami berharap masuknya adalah ke nurse," ucapnya.