Penempatan sesuai kualifikasi pendidikan juga perlu didukung pembekalan sebelum lulusan berangkat ke negara tujuan. Yuli menekankan pembekalan tersebut tidak hanya mencakup kemampuan bahasa, tetapi juga pemahaman mengenai budaya dan lingkungan kerja serta literasi keuangan.
"Kita ingin mereka mendapatkan ilmu terlebih dahulu bagaimana kehidupan di sana, karena tidak hanya bahasa, mereka juga harus tahu budaya di sana seperti apa," ujar Yuli.
Pembekalan tersebut mulai diterapkan di lingkungan Poltekkes untuk meminimalkan persoalan yang dapat terjadi ketika lulusan bekerja di luar negeri. Di Denpasar, Bali Overseas Nursing Center (BONC) juga terus dikembangkan menjadi Global Career Center sebagai bagian dari penguatan persiapan karier lulusan untuk pasar kerja internasional.
Penguatan persiapan tersebut juga diikuti rencana pengembangan sistem Migrant Center yang lebih terintegrasi dan terpusat. Rencana tersebut berkaitan dengan pengelolaan data lulusan serta kebutuhan tenaga kesehatan di luar negeri.
"Kami hanya punya satu Migrant Center nanti yang akan berpusat di Jakarta. Tidak semua Poltekkes punya center-center sendiri agar kita pusatkan dan kita tahu database-nya," pungkasnya.
Menurut Yuli, sistem tersebut nantinya akan dikoneksikan dengan data KP2MI sehingga pemerintah dapat mengetahui kebutuhan tenaga kerja kesehatan di masing-masing negara sekaligus menyelaraskan target penyiapan tenaga kesehatan. Kerja sama melalui MoU antara Kementerian Kesehatan dan KP2MI serta PKS di masing-masing Poltekkes juga diharapkan berjalan secara simultan.
Kolaborasi tersebut mencakup pendidikan, kompetensi, informasi pasar kerja, penempatan, dan pelindungan. Upaya tersebut menjadi bagian dari penyiapan tenaga kesehatan Indonesia untuk bekerja di tingkat global.