NADIKABAR.COM — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan pompanisasi dan penguatan jaringan irigasi menjadi solusi untuk mengalirkan air ke persawahan yang masih terdampak kekeringan di tengah El Nino yang panjang.
“Sumber airnya ada, sungai, dan sungai itu enggak kering juga,” kata Dody seusai meninjau kondisi empat titik persawahan di Bekasi dan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu.
Ia menjelaskan hasil peninjauan di sejumlah titik menunjukkan persoalan tidak selalu disebabkan ketiadaan sumber air, tetapi juga belum tersalurkannya air dari sumber yang tersedia menuju lahan pertanian.
Menurut Dody, pada kondisi tersebut air sungai dapat dipompa dan dialirkan menuju saluran irigasi sekunder maupun tersier agar dapat menjangkau sawah.
Salah satu kondisi itu ditemukan di Desa Kedongdong, Cirebon, Jawa Barat.
Seusai melakukan peninjauan, Dody mengatakan posisi sumber air di desa tersebut berada lebih rendah dibandingkan persawahan sehingga pengaliran air secara gravitasi tidak memungkinkan.
Ia menilai pompa bertenaga listrik dapat menjadi pilihan karena jaringan listrik tersedia di sekitar lokasi. Penggunaan listrik juga dinilai Dody dapat mengurangi beban petani dibandingkan pompa berbahan bakar solar.
“Kalau di situ saya lihat banyak tiang listrik, jadi bisa pakai listrik. Pasang saja pompa yang bertenaga listrik," ucap dia.
Air hasil pemompaan selanjutnya dapat disalurkan melalui pipa menuju saluran sekunder yang telah tersedia. Sementara itu, jaringan tersier yang mengalirkan air lebih dekat ke lahan pertanian masih perlu dibangun.
Dody mengatakan pembangunan saluran tersier sederhana dapat dilakukan dengan melibatkan petani.
“Ajak petani itu bikin bersama-sama. Murah itu, enggak mahal,” ungkap Dody.
Sebagai contoh, dengan skema pompanisasi dan jaringan tersebut, ia memperkirakan hampir 400 hektare sawah di kawasan yang ditinjaunya di Kedongdong dapat memperoleh aliran air.
“Hampir 400 hektar bisa dialiri dengan mudah,” katanya.
Untuk penanganan jangka lebih panjang, Dody menyebut pembangunan sumur bor maupun embung juga dapat dipertimbangkan pada kawasan yang terus mengalami kesulitan mengalirkan air dari sumber yang lebih rendah.
Khusus kawasan sekitar 400 hektare yang ia contohkan di Desa Kedongdong, Dody memperkirakan dua atau tiga sumur bor dapat menjadi salah satu pilihan.
Alternatif lainnya, ialah pembangunan embung pada lokasi dengan ketersediaan lahan yang memungkinkan.
Namun, ia mengatakan pilihan penanganan permanen masih harus dikaji lebih lanjut sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Kalau strategi ke depan memang kita perlu waktu untuk mengkajinya lebih dalam lagi,” ucap Dody.
Kementerian PU mencatat hingga 24 September 2026 penanganan kekeringan telah dilakukan di 3.288 lokasi secara nasional, termasuk 358 lokasi di area persawahan.
Penanganan di sektor pertanian tersebut mencakup sekitar 141.440 hektare sawah.
Sebelumnya, Kementerian PU juga melaporkan bentuk penanganan di sektor pertanian meliputi pemompaan air sungai menuju sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembuatan saluran darurat, pengaturan giliran air, optimalisasi saluran, serta pemasangan pipa.