NADIKABAR.COM — Di antara perbukitan Kabupaten Malang, Jawa Timur, Waduk Sutami atau yang lebih dikenal sebagai Waduk Karangkates telah menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan, sekaligus penopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Kini, ratusan ribu meter persegi permukaan air waduk itu menyimpan harapan baru melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung terbesar kedua di Indonesia.

Perlahan, permukaan waduk yang dulu berhiaskan perahu dan kapal berwarna-warni itu berubah menjadi ruang bagi panel-panel fotovoltaik yang menangkap cahaya matahari, mengubahnya menjadi energi listrik, lalu mengirimkannya ke jaringan kelistrikan.

Proyek yang memiliki nilai investasi sekitar 90 juta dolar AS itu dikerjakan melalui PT Nusantara Guodian Karangkates Indonesia (PT NGKI), yaitu perusahaan patungan (konsorsium) PT PLN Nusantara Renewables (anak perusahaan PLN Nusantara Power) dengan Guodian Power Jasa Tirta Investasi (perusahaan patungan Perum Jasa Tirta I dan GD Power Hong Kong).

Pembangkit ini dirancang memiliki kapasitas 100 megawatt arus bolak-balik (MWac) atau setara 133 megawatt puncak (MWp) dengan target mulai beroperasi pada Januari 2027 yang sekaligus menjadi salah satu langkah untuk memperbesar porsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional.

Di tengah kebutuhan listrik yang terus tumbuh dan tantangan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, proyek Karangkates menghadirkan satu gagasan sederhana tetapi penting, yakni bahwa kemandirian energi tidak selalu harus dimulai dengan membuka lahan baru, melainkan dapat tumbuh dari optimalisasi sumber daya yang sudah dimiliki negeri ini.

Pembangunan dimulai pada Januari 2026, setelah dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) diterbitkan pada 5 Januari di tahun yang sama.

Kemudian, pekerjaan PLTS Terapung Karangkates memasuki tahapan yang menuntut ketelitian teknis, sekaligus koordinasi lintas pihak.

Direktur Operasi NGKI Djauhar Husni menjelaskan progres keseluruhan proyek telah mencapai sekitar 70 persen hingga Oktober 2026 mencakup pekerjaan rekayasa teknis, pengadaan peralatan, dan konstruksi.

"Secara progres konstruksi ini sudah memasuki angka 70 persen, dengan target penyelesaian atau rencana operasional pada awal Januari 2027," ujar pria yang juga karyawan PLN NP ini.

Angka itu bukan sekadar persentase di atas laporan pekerjaan, sebab di permukaan waduk telah terbentuk enam pulau panel surya atau PV island dari delapan pulau yang direncanakan dengan kapasitas terpasang sementara sekitar 80 MWac.

Delapan pulau surya tersebut dirancang menempati area sekitar 71 hektare, atau kurang lebih 3,7 persen dari luas waduk pada kondisi muka air tertinggi, dengan ukuran masing-masing pulau menyesuaikan kontur dasar waduk serta kondisi perairannya.