Perjalanan kotoran sapi tidak berakhir setelah biogas dihasilkan karena sebagian limbah peternakan juga diolah menjadi pupuk kandang dan vermikompos, dengan kapasitas pengolahan sekitar 150 kilogram kotoran sapi per hari.
Pupuk organik tersebut telah melalui pengujian laboratorium Universitas Padjadjaran dan dimanfaatkan untuk budidaya bayam Jepang, selada romaine, kopi, serta digunakan mendukung penanaman saninten sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan.
Pada lahan ujicoba yang dikembangkan, sekitar 100 tanaman selada romaine menghasilkan panen 15 kilogram, dengan potensi produksi hingga 50 kilogram.
Dari jumlah tersebut, sekitar 30 kilogram berpotensi dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram, menghasilkan omzet Rp450.000 sekali panen atau Rp5,4 juta per tahun jika penjualan berlangsung setiap bulan.