NADIKABAR.COM — Di Ranah Minang, rel-rel tua masih menyimpan cerita tentang kejayaan kereta api yang pernah menghubungkan pedalaman dengan pesisir dan membawa kekayaan alam ke pusat perdagangan.

Sebagian besar dari 280 km rel kereta api yang ada di Ranah Minang dalam keadaan terlelap menunggu diaktifkan kembali untuk menggerakkan denyut ekonomi Sumatera Barat (Sumbar).

Besi-besi rel yang dirangkai saat penjajahan kolonial Hindia Belanda tersebut menanti untuk disusun kembali bukan sekadar untuk mengenang seberapa jauh kereta pernah menjelajah pelosok negeri, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu dibawanya bagi generasi hari ini dan nanti.

Hindia Belanda membangun jalur kereta api di Ranah Minang pada 1887 untuk rute Pulau Air ke Padang Panjang. Lalu dilanjutkan ke Bukittinggi yang kemudian dioperasikan pada 1891. Jalur tersebut digunakan untuk membawa produk pertanian dan perkebunan hasil tanam paksa ke Padang guna diekspor ke Eropa.

Penemuan batu bara di Sawahlunto oleh WH De Grave pada 1871 makin memperkuat keinginan Hindia Belanda untuk mengembangkan jalur kereta api di Sumbar.