NADIKABAR.COM — Mi instan sering dikaitkan dengan berbagai anggapan soal kesehatan, salah satunya disebut lebih sulit atau lebih lama dicerna dibandingkan makanan lain.

Anggapan tersebut cukup sering muncul karena mi instan melewati proses pengolahan yang berbeda sebelum sampai ke meja makan. Ada pula anggapan bahwa mi instan dapat "mengendap" di dalam lambung hingga berjam-jam atau bahkan berhari-hari.

Namun, benarkah mi instan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dicerna?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Lama makanan berada di saluran pencernaan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari komposisi makanan, ukuran partikel, kandungan lemak, cara memasak hingga kondisi sistem pencernaan seseorang.

Mi instan tidak mengendap berhari-hari di lambung

Salah satu mitos yang cukup populer adalah mi instan membutuhkan waktu sangat lama untuk dicerna sehingga tetap berada di dalam lambung selama berhari-hari.

Faktanya, makanan tidak sekadar "diam" di dalam lambung sampai selesai dicerna. Setelah masuk ke lambung, makanan akan dicampur dengan cairan dan enzim pencernaan hingga berubah menjadi bentuk yang lebih cair atau disebut kimus.

Lambung kemudian secara bertahap mengosongkan isinya menuju usus halus. Di sana, proses pencernaan dilanjutkan dan sebagian besar zat gizi diserap tubuh.

Menurut Mayo Clinic, rata-rata makanan membutuhkan sekitar enam jam untuk melewati lambung dan usus halus. Setelah itu, sisa makanan masuk ke usus besar dan dapat membutuhkan sekitar 36 hingga 48 jam untuk melewati bagian tersebut sebelum akhirnya dikeluarkan sebagai feses.

Artinya, waktu tersebut merupakan keseluruhan perjalanan makanan dalam sistem pencernaan, bukan berarti mi instan berada di lambung selama berhari-hari.